
Setiap kampung pasti memiliki seseorang yang menjadi ikon. Ketika SMP dulu, aku dan teman-teman sering bercerita tentang sosok paling beken di kampung masing-masing. Di kampung Misbach adalah Kapten Dulloh, seorang pensiunan ABRI yang kerap kali menstop anak-anak yang melewati rumahnya dan mengetes Pancasila beserta butir-butirnya. Kata Misbach, mereka lebih baik memutar arah daripada melewati rumah Kapten Dulloh. Misbach dan dua orang temannya pernah “pede” lewat depan rumah Kapten Dulloh karena Pak Kapten tak terlihat duduk di beranda, namun ternyata, dari dalam rumah muncul teriakan, “Berhenti! Siap Grak!” Spontan Misbach dan kawan-kawan berdiri mematung seperti disambar gledek. Setelah diberi aba-aba memberi hormat mereka dites mencocokan nama Pahlawan dan asal daerahnya, karena salah menyebut asal daerah pahwalan Kapten Pattimura, Misbach dihukum untuk menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini, yang berhasil ia nyanyikan namun dengan suara yang sangat fals. Misbach dan dua temannya berhasil lolos namun malang bagi Misbach. Karena sejak itu ia dijuluki si pales, sampai saat ini.
Lain lagi di kampung Rumpon, yang terkenal disana adalah Mak Resmi, orang gila yang sering datang ke masjid kampung untuk mengaji. Ia selalu mengaji sambil berdiri di pintu masjid. Tak ada yang salah dengan ngajinya, tajwidnya benar, dan lagunya pas, kata Rumpon. Dan tidak ada respon berlebih dari penghuni masjid lainnya kala Mak Resmi datang dan mengaji, karena telah sangat terbiasa. Rumpon dan anak-anak lain juga sama-sama mengaji, hanya ketika Mak Resmi berjalan tiap anak menghindar sambil tertawa cekikikan, yang Mak Resmi tanggapi dengan senyum tipis. Tak ada yang takut pada Mak Resmi, ia orang gila yang baik, kata Rumpon.
Di kampung Leli sosok yang terkenal adalah Kyai Bahri, seorang guru ngaji yang beristri delapan. Kampung Yana punya si Boncel, tukang sate yang bertubuh mungil. Sedangkan kampung Geri memiliki Si Rocky, kali ini bukan orang, namun anjing herder milik Pak Maksum, pensiunan polisi. Si Rocky ini aku sendiri tahu karena jika jalan-jalan naik motor ke kampung Geri aku pasti melihat Si Rocky di kandangnya yang megah tepat di seberang balai desa, tampaknya Si Rocky sengaja disimpan disana sebagai penjaga keamanan desa, dan menurutku ini sangat tepat, karena maling kampung akan lebih takut pada gonggongan anjing herder ketimbang orang yang meronda.
Lalu siapa ikon kampungku? Aku ingat ketika itu aku menjawab: Haji Irit! Dan tampaknya, sampai sekarangpun jawabannya sama.
Cukup panjang sebetulnya jika menceritakan Haji Irit, setidaknya dalam kacamataku. Kini, aku yang baru masuk kuliah ini menyadari banyak hal yang bisa diceritakan mengenai tokoh kampungku ini. Dulu, ketika smp itu aku hanya menceritakannya sesederhana ini:
Irit adalah sebuah julukan bagi Pak Haji ini. Ia memang selalu mengatakan bahwa hidup itu harus irit! Setiap ada kesempatan pesannya adalah: kita harus irit, jangan boros! Menabunglah! Hemat pangkal kaya! Semenjak pergi ke kota untuk mengadu nasib menjadi buruh bangunan, rumahnya di kampung pelan-pelan berubah, dari sebuah gubuk berdinding bilik, menjadi berdinding bata, kemudian menjadi rumah gedongan, lalu berdiri parabola, satu-satunya parabola di kampung, dan kini rumahnya dipagari oleh pagar besi tinggi, sehingga muka rumah gedongannya, parabolanya, menjadi terlihat paling mencolok dari pinggir jalan. Jika pulang ke kampung, Haji Irit selalu berkesempatan untuk memberikan ceramah agama, dengan pesan tunggal: kita harus irit! Menabunglah! Hemat pangkal kaya! Sejak kecil aku dan teman-teman selalu berkumpul di rumah Haji Irit di sore hari dan minggu pagi untuk menonton film kartun. Kami duduk mengglosor di keramik yang bisa memantulkan wajah kami. Sementara Cepi, anak Haji Irit, duduk di kursi empuk, memegang remote. Kami menonton apa yang ia ingin tonton. Sementara bapak-bapak suka berkumpul di malam hari, setahuku mereka nonton film kungfu atau nonton TV Perancis. Ibu-ibu mungkin berkumpul pagi hingga siang, menonton acara yang aku tidak tahu, karena tentu aku tengah bersekolah. Haji Irit adalah orang paling kaya, paling sukses. Ia juga orang yang baik, suka memberi rezeki pada orang-orang. Kalau Lebaran ia suka membuat saweran di depan rumahnya. Ia selalu bilang bahwa ia kaya karena irit, lalu irit menjadi semangat setiap orang di kampung.
Kini, tiga belas tahun setelah aku menceritakan tentang Haji Irit di SMP dulu, aku kembali ingin menceritakan Haji Irit. Hmm… bukan tentang Haji Irit sebetulnya, namun tentang kampungku. Haji Irit tetap orang paling kaya saat ini. Rumahnya tetap yang paling gedongan, bahkan wajah rumahnya sudah berubah, menjadi rumah dengan pilar-pilar gaya Yunani, atau Romawi, entahlah. Yang pasti pilar rumah itu dulu sering aku lihat di film kartun Saint Saiya. Haji Irit tetap mengumandangkan kata Irit, dan rasanya kosakata “irit” telah menjadi sebuah semangat desa kami sejak Pak Haji pertama kali mengumandangkannya. Saya masih ingat pertama kali ia berceramah ketika ia kembali dari Haji. Istilah irit ia kampanyekan pada berbagai acara, seperti pengajian Maulud Nabi, sambutan khitanan ponakan-ponakannya, di panggung agustusan, dan lain-lain. Dari dulu sampai sekarang, di kampungku hanya ada dua orang yang suka berceramah, Pak Kyai Syukron, dengan pesan agamanya, dan Haji Irit dengan pesan tentang iritnya. Meski berbicara tentang irit, namun ceramahnya tidak pernah irit, bahkan lebih lama dan lebih jenaka dibandingkan milik Kyai Syukron. Haji Irit orang yang sangat menyenangkan.
“Irit itu ibadah, karena kita menjadi tidak mubadzir, tidak mubah. Jangan berpikir jadi kaya, tapi berpikirlah untuk irit! Saya bangun rumah, karena saya ngirit, tidak ingin beli ini itu yang tidak perlu, pokoknya ngirit karena ingin punya rumah gedong! Saya ingin beli mobil, saya harus ngirit, menabung, jangan foya-foya beli barang-barang yang tidak perlu, maka lama-lama kebeli itu mobil!” Kira-kira itu salah satu pesan Haji Irit yang saya ingat, saya lupa itu disampaikan dalam acara apa.
Bagi Haji Irit, kaya itu bukan tujuan, tapi hidup dalam keprihatinanlah yang akan membuat kekayaan akan terkumpul dengan sendirinya. Baginya, disanalah letak kekayaan sejati, karena hidup prihatin melambangkan kerendahan hati dan ciri orang sabar.
“Kalau ingin kaya, kita harus berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Saya ini pergi Haji karena bekerja keras, dan tidak berfoya-foya dari hasil pekerjaan, tapi uang itu diirit-irit! Ditabung! Hadirin semuanya ingin naik Haji, kan? Hadirin semua ingin punya rumah gedong, kan? Maka hadirin semua harus bersusah-susah dahulu. Pergilah ke Jakarta walau jadi tukang ngaspal jalan tak mengapa. Saya juga dulu ngaspal dulu sebelum jadi mandor tapi karena ngirit, saya jadi bisa nabung, jadi apa yang saya ingin punya bisa saya beli. Bekerjalah secara profesional, artinya, kita harus bertanggungjawab terhadap pekerjaan kita dengan itu kita bisa meningkatkan profesi. Dari ngaspal terus jadi mandor, dari mandor jadi kontraktor! Kalau diam di desa terus, kita jadi keenakan, tidak bisa bekerja keras! Mental kita jadi lemah! Kapan kita maju? Ingat! Bekerja keras, dan ngirit! Itulah kunci keberhasilan hidup! Dan jangan lupa berdo’a, karena rezeki Tuhan yang mengatur!” Begitu kampanye irit Haji Irit. Saya bisa merasakan suaranya yang mengelegar, membakar hati kami, membawa angan-angan kami ke luar angkasa.
Demikianlah, karena konsistensi pesan tentang irit, maka ia dijuluki Haji Irit. Dalam kartu undangan pernikahan sering tertera “Turut mengundang Haji Irit”. Nama Haji Irit lebih sering muncul daripada nama aslinya. Ia sendiri sadar dengan julukan itu, dan kemudian ia gunakan sebagai identitas barunya. Memang cukup jitu strategi itu, Haji melambangkan kemuliaan spiritual manusia, irit adalah semangat hidup di dunia, kira-kira begitulah ayahku dulu menceritakan Haji Irit kepadaku. Ketenaran Haji Irit menjalar ke kampung tetangga. Haji Irit menjadi sosok panutan, tiap anak mencium tangannya jika berpapasan. Para orang tua kami selalu menyempatkan diri bersalaman sambil membungkukkan badan ketika bertemu dengannya. Rumahnya menjadi ikon desa, lambang keberhasilan desa. Setidaknya itu terasa ketika dulu aku harus menceritakan tentang desa kami kepada teman dari desa lain, bahwa desa kami itu lebih maju daripada desa lain karena punya rumah gedong dengan parabola dan pagar besi yang tinggi.
Setelah itu, ngirit menjadi istilah untuk apa yang dicapai oleh Haji Irit dengan cara Haji Irit. Penduduk kampung terobesesi menjadi Haji Irit. Setelah makin sering Haji Irit mengkampanyekan gerakan ngirit, makin banyak pemuda di kampungku pergi ke Jakarta. Para orang tua merestui mereka, karena semua mendambakan anaknya menjadi Haji Irit. Bahkan semenjak sepuluh tahun terakhir, rasanya hanya tinggal segelintir pemuda yang tinggal di kampung, rata-rata mereka mendirikan warung, atau kini kios pulsa. Sebagian besar generasiku berangkat ke Jakarta setelah lulus SMP atau SMA, rata-rata menjadi buruh bangunan atau buruh pabrik di Tangerang. Mereka pulang dua bulan sekali dan pasti di momen-momen hari raya. Maka momen Lebaran menjadi momen yang riuh dengan pameran ke-Haji Irit-Haji Irit-an. Pemuda mengenakan pakaian terbaiknya, pemudi mendapat hadiah dari kekasihnya dari Jakarta. Motor-motor berseliweran, rumah-rumah dipoles dengan cat baru menjelang Lebaran. Tiap rumah bergema musik pop atau dangdut dari pengeras suara berkapasitas besar. Di malam hari, di sudut-sudut jalan, pemuda berkerumun dan tampaknya mulai berjoget tidak sadar. Dan tiga tahun terakhir ini, Lebaran di kampungku selalu diramaikan dengan tawuran pemuda. Tawuran pertama terjadi karena sentimen antar geng buruh di Jakarta yang dibawa-bawa ke kampung, tawuran kedua karena dua geng itu bersenggolan di acara konser dangdut pada pesta pernikahan penduduk kampung, dan tawuran ketiga yang paling aneh, karena keduanya ingin tawuran. Saya mulai ngeri, jangan-jangan tahun depan tawuran terjadi karena sudah menjadi tradisi. Dan mengapa Lebaran? Karena hanya waktu Lebaran lah semua penduduk yang merantau pulang kampung.
Haji Irit juga mempengaruhi wajah kampung. Kini sebagian besar rumah sudah punya pagar. Ada yang pendek dan ada yang tinggi. Sebagian besar tampak masih dalam pengerjaan, dan pemandangan pagar setengah jadi itu telah biasa, proses pembangunan adalah tanda kemajuan.
Pak Rasyid menjual tanahnya yang cukup luas di sebelah barat kampung dan uangnya ditabung untuk naik Haji, maka ia menjadi Haji Rasyid. Sementara sekarang bekas kebun tebunya di barat kampung telah menjadi tanah yang gerowak karena dikeruk oleh perusahaan pengurugan tanah. Mang Sarpan menjual lima kudanya untuk membayar uang muka angkot dan kini lima delman Mang Sarpan telah hilang berganti satu angkot yang di malam hari parkir gagah di depan rumahnya. Dan yang paling fatal adalah Pak Kuwu, kepala desa kami. Ia menggelapkan uang kas desa untuk membangun rumah baru, yang rencananya akan ditinggali oleh istri mudanya, yang ia rebut dari Mang Komar, yang merantau ke Jakarta.
Karena kejadian yang terakhir inilah kampungku gonjang-ganjing. Ayahku kini yang sedang repot. Ayahku kini memimpin desa untuk mendemo kepala desa. Partner ayah adalah sesepuh-sesepuh desa, yang menyimpan sejarah dan kearifan leluhur. Ayah dan para sesepuh desa kini menjadi motor pembaharuan desa, mencoba menjauhkan desa dari garis kehancurannya. Ayah melaporkan korupsi kepala desa ke kantor kejaksaan, juga mengumpulkan dana “syarat” pengaduan sebesar sepuluh juta agar kasus korupsi kepala desa segera diusut kejaksaan negeri. Rapat-rapat desa digelar. Pemuda-pemuda di desa mulai terbakar amarahnya. Mereka berdemonstrasi menuntut pertanggungjawaban kepala desa dan meminta pengembalian dana sebesar 400 juta yang jelas takkan mampu dikembalikan dengan segera. Pak Camat turun tangan meredakan massa, namun massa mengendus niat Pak Camat yang membela kepala desa dan akhirnya camat dituduh kecipratan uang haram. Bisa ditebak siapa penggerak dari pihak pemuda, Mang Komar, yang istrinya direbut sang Kuwu.
Keadaan kampung kacau balau, namun tak ada yang menyentuh Haji Irit sebagai bagian dari kekacauan. Ayahku sendiri termasuk pengagum Haji Irit. Ia benar-benar menerapkan ngirit sehingga kini aku bisa berkuliah. Ayah seorang guru SD, dan tak punya kemampuan bisnis atau apapun selain menjadi guru. Ia ingin naik Haji, namun ia juga ingin aku berkuliah. Maka sampailah aku ke bangku kuliah, dan sampai pulalah aku bisa menuliskan kisah Haji Irit ini. Dan sampai pulalah aku sampai pada kesimpulan bahwa Haji Irit adalah penyebab kekacauan desaku. Semangat iritnya lah yang telah membawa perubahan cara berpikir orang kampung mengenai hidupnya. Dan kini dampak-dampak tak terduga mengenai semangat ngirit itu tengah memuncak kearah kehancuran desaku. Yang mengerikan lagi adalah, bahwa kini kampungku tak memiliki kader pemimpin, satu-satunya pemimpin yakni Pak Kuwu sendiri kini telah berkhianat. Ayahku? Rasanya ia takkan berpaling dan akan tetap menjadi guru. Aku? Tak pernah terpikir olehku kembali dan menetap di kampung.
Haji Irit tentu tidak berdiam diri dengan kondisi kampung. Ia sendiri menyempatkan pulang dan mengumpulkan pemuka masyarakat di rumahnya dan ikut mensponsori pengaduan tindak korupsi kepala desa. Masyarakat mulai merasa tenang karena ketika segala sesuatu ada di tangan Haji Irit maka semua akan sukses. Maka Haji Irit tak tersentuh noda apapun. Ia bersih di mata dirinya sendiri dan di mata warga kampung. Aku. Hanya aku yang menganggapnya bersalah. Itupun tak pernah aku kemukakan, karena aku rasa pendapatku ini akan dianggap tidak masuk akal. Menyalahkan Haji Irit sebagai sumber kekacauan desa adalah sebuah tuduhan penghinaan. Bisa-bisa aku dianggap memfitnah. Lagipula, Haji Irit bisa melakukan apapun untuk menuduhku balik, dengan kekuatan pengaruhnya, mungkin sekali ia bisa melaporkan bahwa aku telah melakukan tindakan pencemaran nama baik.
Lalu? Aku hanya pembuat cerita, kuliahku sendiri adalah sastra. Jadi, biarlah aku jadikan kisahnya sebagai fiksi belaka. Untuk menghibur pembaca koran di waktu senggang. Lagipula demikian pula namaku akan dikenal orang. Dosenku akan anggap aku pintar, juga bisa mendapat penghasilan tambahan.
Bandung, 13 Oktober 2010