Butuh Misi Kebudayaan di Negeri Sendiri

Dipublikasikan di rubrik Khazanah Pikiran Rakyat dengan Judul “Kampanye Seni Budaya”, Minggu (11/8)

“Bagaimanakah cara menepis rasa malu dan gengsi untuk memainkan kesenian tradisional? Masalahnya, kebanyakan anak muda saat ini memainkan kesenian modern, jadi ketika ingin menggeluti seni tradisi yang muncul pertama kali adalah rasa malu dan gengsi”, tanya Luthfi, salah satu peserta acara Seminar Apresiasi Kesejarahan yang diselenggarakan oleh Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisional di SMKN 1 Sumedang, Selasa (26/7) lalu.

Selama tiga kali menjadi narasumber acara tersebut di Sukabumi, Garut dan Sumedang, saya banyak mendapatkan pertanyaan bagus dari peserta. Selain tentang malu dan gengsi juga ada pertanyaan soal bagaimana menjaga jarak dengan tren yang saat ini berlangsung, yakni budaya pop. Seorang peserta bernama Indra dari SMKN 1 Sumedang juga bertanya, “saya sudah aktif menggeluti seni karinding, tapi setelah itu bagaimana dan di mana saya harus eksis?”

Pertanyaan-pertanyaan diatas bernada ironi. Peserta tampaknya bingung dengan ajakan para narasumber yang menjadi mewakili penyelenggara untuk bersikap apresiatif terhadap nilai-nilai sejarah dan budaya tradisional. Muara kebingungan peserta adalah bahwa nilai-nilai itu tampak tak nyata. Dan khususnya mengenai ekspresi seni tradisi, seperti yang dikatakan Indra, mau dibawa ke mana?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya bercerita mengenai grup musik Karinding Attack. Grup ini diinisiasi oleh musisi-musisi metal dan berkolaborasi dengan seniman tradisi sunda, bahkan seniman luar negeri. Tidak tanggung-tanggung, punggawa Karinding Attack berguru kepada Abah Olot, maestro musik karinding, untuk memperdalam karinding. Akhir tahun lalu Karinding Attack memproduksi album di alam terbuka kawasan konservasi Gunung Kareumbi. Kini namanya sudah dikenal di dunia musik indie dan populer. Mereka juga pernah tampil di salah satu stasiun tv nasional. Pengaruh paling nyata adalah popularitas karinding pada komunitas metal di Bandung karena Karinding Attack sering manggung di sela-sela konser musik metal dan punk.

Selain itu, di acara konser musik metal Bandung Berisik pada 11 Juni lalu tampak fans yang datang menggunakan iket. Penggunaan kain penutup kepala khas sunda itu menjadi populer karena musisi-musisi metal dari Ujung Berung juga kerap menggunakan iket ketika manggung. Apakah penggunaan iket ini sekedar hiasan?

“Skena musik metal itu bisa digunakan sebagai jalan mempopulerkan kembali nilai-nilai kasundaan. Di jaman sekarang susah kalau mau langsung mengajarkan nilai tradisional, salah satu cara yang bisa kami lakukan ya dengan memperkenalkan pada fans simbol-simbol budaya Sunda dalam konser-konser yang mereka datangi seperti memakai iket ketika konser. Selain itu kami suka menggunakan karinding, rebab tarawangsa dan celempungan sebagai bagian dari musik metal. Dan itu apresiasinya besar karena musisi metal dan fansnya saling mempengaruhi”, ujar Kimung, personil Karinding Attack dan Band Sonic Torment ketika bertandang ke Sanggar Motekar Jatinangor, tempat saya beraktifitas, beberapa waktu silam.

Cerita-cerita mengenai gerakan anak muda dalam bidang seni tradisi rasanya lebih efektif agar siswa lebih terhubung dengan semangat zaman masa kini. Selanjutnya, pemikiran kreatif dalam mengkampanyekan seni tradisi menjadi tantangan pihak terkait.

Misi Kebudayaan

Sandie Gunara, dosen Pendidikan Seni Musik UPI mengatakan dalam artikelnya di situs Pendidikan Network, bahwa masalah pemahaman dan apresiasi siswa sekolah terhadap seni tradisi dapat dimuarakan pada beberapa hal. Pertama, tidak adanya medan sosial tempat seni tradisi hidup. Artinya di lingkungan sekolah, di masyarakat, maupun di media massa seni tradisi tidak hadir berupa keseharian, namun hadir sewaktu-waktu sehingga siswa tidak mampu mengapresiasi secara berkesinambungan.

Kedua, loyonya kesenian tradisi itu sendiri. menurut saya, hal ini diakibatkan makin terpusatnya kegiatan seni tradisi hanya pada institusi pendidikan seni, sedangkan sanggar-sanggar milik masyarakat tidak didukung oleh bantuan infrastruktur maupun peningkatan SDM. Akhirnya sanggar seni tradisi tidak bisa mengikuti perkembangan zaman dan seninya pun dianggap kuno.

Terakhir adalah dominasi kebudayaan populer yang datang dari ranah global melalui media massa. Biasanya poin terakhir inilah yang kerap dianggap sebagai penyebab utama lumpuhnya seni tradisi.

Pertanyaan bernada ironi dari peserta seminar merupakan reaksi dari kebingungan anak muda untuk mengapresiasi seni tradisi sementara medan sosialnya adalah budaya pop. Kultur rock ‘n roll, pop, punk, metal dan lainnya adalah budaya dominan yang dengan otomatis akan diapresiasi secara tidak sadar karena mudah ditemukan. Atau, seni budaya pop itu sendiri yang mengejar-ejar kita. Bandingkan dengan seni dari ranah tradisi?

Di sini, menceramahi anak muda tentang keunggulan dan pentingnya seni tradisi menjadi hal yang formalitas. Karena untuk membuat anak muda itu bergairah kepada seni tradisi maka seni tradisi itu harus semenggairahkan seni pop yang saat ini tengah digandrungi.

Saya membuka kembali esai-esai kebudayaannya Mudji Sutrisno, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini mengatakan dalam sebuah esainya bahwa persoalan kelangsungan hidup seni tradisi di era komersialisasi global adalah, pertama rasa tertantangnya si seniman tradisi dalam merespon budaya global. Si seniman harus bisa melakukan eksplorasi seni dengan seni tradisi sebagai rohnya. Kedua, dukungan dari politik kesenian yang akan memberi iklim pendukung bagi eksplorasi si seniman dan masyarakat. Dengan politisasi tersebut iklim tradisional, melalui seni dan ritual budaya, dapat bertahan dalam keseharian.

Peningkatan apresiasi siswa SMU hendaknya juga ditopang oleh misi kebudayaan. Istilah misi kebudayaan saat ini lebih dikenal tatkala duta kebudayaan Indonesia melancong ke luar negeri. Bukankah kondisi di dalam negeri juga membutuhkan misi kebudayaan? Apa yang dilakukan oleh barudak Karinding Attack bisa dikatakan sebuah misi kebudayaan di dalam negeri dan selayaknya dijadikan contoh. 

2 Comments

Filed under Kultur

Napak, Problematika Pewarisan Seni Kuda Renggong

Dimuat di Pikiran Rakyat dengan judul “Kuda Renggong pun Ikut Menari”, Sabtu (9/7)*

Sebulan yang lalu, tepatnya di hari minggu (5/5), Sanggar Motekar Jatinangor riuh oleh puluhan orang. Ada anak-anak, orang dewasa bahkan kakek-nenek yang menyaksikan dua kuda tengah diuji coba menari dengan iringan musik. Tidak betah hanya diam, orang-orang pun ikut menari.

Bagi yang belum kenal, selamat berkenalan dengan seni tradisional asal Sumedang: seni Kuda Renggong. Inilah satu-satunya kreativitas yang memperlakukan kuda di luar kodratnya: kuda diajari menari!

Acara ini punya istilah: “Napakkeun kuda”. Arti bebasnya adalah mencocokkan irama tarian kuda dengan musik pengiringnya. Bukan sekedar itu, napak juga mencocokkan calon Kuda Renggong dengan elemen-elemen lain dalam pertunjukkan Kuda Renggong, yakni penunggang dan para ronggeng.

“Si Gending lulus! Si Supenir masih harus latihan lagi!” ujar Aki Ali (69), maestro Kuda Renggong yang kini bermarkas di Sekolah Kuda Renggong, bagian dari Sanggar Motekar Jatinangor. Si Gending dan Si Supenir adalah dua kuda yang tengah dilatih di Sekolah Kuda Renggong.

Sanggar Motekar sejak empat bulan yang lalu mengusahakan berdirinya Sekolah Kuda Renggong. Sekolah ini bertujuan memelihara dan mewariskan pengetahuan seni Kuda Renggong yang lahir pada tahun 1910. Secara khusus, program ini didedikasikan untuk Aki Ali, yang kami juluki “Rektor” Sekolah Kuda Renggong. Di sekolah ini Aki Ali bukan hanya melatih kuda, namun juga melatih para pelatih muda Kuda Renggong.

Aki Ali dalam Alur Sejarah Kuda Renggong

Kuda Renggong diciptakan oleh Aki Sipan dan anaknya Aki Sukriya di Buah Dua, Sumedang. Alkisah, Pangeran Suriaatmadja, Bupati Sumedang, adalah orang yang mengilhami kemunculan seni ini. Ia memberi titah kepada Aki Sipan, abdi dalem urusan kuda untuk berkreasi membuat kuda bisa menari. Duet kreativitas ayah-anak ini menghasilkan Kuda Renggong pertama yang  dipertunjukkan sebagai tunggangan cucu sang Bupati seabad yang lalu.

Aki Sukriya kemudian menyebarkan seni ini hingga ke pelosok Sumedang. Gaung Kuda Renggong membuat seorang remaja asal Cikeruh, Jatinangor, bernama Ali Ahnudin, yang kini dikenal sebagai Aki Ali atau Aki Hideung, melepaskan diri dari bangku sekolah menengah dan memilih berguru kepadanya. Aki Ali merupakan murid terakhir dari 11 murid Aki Sukriya.

Belajar langsung dari Aki Sukriya, dilanjutkan dengan terus mengejar ilmu ke berbagai ahli kuda lainnya, membuat Aki Ali kaya raya akan ilmu. Kini Aki Ali bukan hanya ahli mengajari kuda menari, tapi ia juga menguasai ilmu caturangga – ilmu membaca karakter kuda dari pusar bulunya – serta ilmu perawatan kuda tradisional. Sejak lama ia resah karena belum ada generasi muda yang mewarisi ilmunya. Apa sebabnya?

Generasi muda ini, menurut Aki Ali, cenderung puas sebelum waktunya. Mereka merasa telah menjadi pelatih hebat setelah bisa membuat kuda sedikit berjingkrak. Logika ekonomi ikut campur, membludaknya popularitas seni Kuda Renggong sama dengan naiknya permintaan. Kemudian para pelatih generasi masa kini kerap memanggungkan kuda yang menurut Aki Ali belum layak disebut Kuda Renggong. Logika budaya instan telah merasuki seni Kuda Renggong.

Problematika Pewarisan

 

Tantangan zaman inilah yang harus dihadapi Aki Ali dan seniman sepuh Sanggar Motekar pada umumnya. Tantangan zaman ini bisa dibedah menjadi masalah teknis dan non teknis.

Masalah teknisnya adalah bahwa seniman tradisi tidak terbiasa dengan pendekatan pedagogis. Mereka tak menguasai cara mengajar dengan bantuan kurikulum. Seniman sepuh, dulu belajar dengan pola nyantri, mereka belajar sambil mondok bertahun-tahun pada gurunya. Itu dilakukan oleh Aki Ali kepada Aki Sukria.

Masalah non teknisnya adalah soal mentalitas. Mereka bukan guru seperti yang peradaban modern definisikan, mengajar dalam disiplin ruang dan waktu yang telah ditentukan. Hidup mereka yang utama adalah bekerja dengan/dalam kesenian. Menjadi guru tidak masuk dalam kesadaran peran sosial mereka. Kesenian tradisi juga punya corak khusus dimana penghayatan seni tidak bisa diperoleh dari ajaran lisan maupun tulisan semata, melainkan dari pengalaman. Jadi, dalam seni tradisi penguasaan teknis bukanlah yang paling utama, penghayatan terhadap pengalamanlah yang utama. Dalam pendidikan modern kebalikannya.

Dalam kasus-kasus pewarisan seperti di atas, kami banyak belajar sekaligus mempraktikkan model-model pewarisan yang paling cocok. Untuk kasus Seni Kuda Renggong, jalan yang tengah kami tempuh adalah dengan tetap memberikan ruang yang leluasa bagi praktik seni tradisional, yakni belajar dalam keseharian untuk mengunduh pengalaman. Namun, pelan-pelan kami juga coba membantu Aki Ali memerankan diri menjadi guru versi modern. Jalan ketiga macam ini masih kami terus evaluasi, karena kamipun tak ingin model disiplin versi modern merusak ruang bermain dan kealamiahan metode pendidikan tradisional. Selain itu, upaya konvergensi juga kami coba, yakni dengan melibatkan teknologi komunikasi untuk membantu pewarisan seni tradisi.

Upaya pewarisan seni tradisi harus napak dengan irama waktu. Upaya kreatif dibutuhkan agar seni tradisi bisa menjawab tantangan zaman. Rencana kami, program ini akan dibuka sebagai obyek wisata budaya. Anak-anak di manapun tentu suka naik kuda. ‘Kuda yang menari’ kami pikir juga akan memikat turis asing. Signifikansi dari upaya ini bukan sekedar agar khazanah seni tradisi bisa bertahan, tapi juga bisa terus menginspirasi dan menghidupi pegiatnya.

* judul yang dibuat oleh redaksi Pikiran Rakyat tidak relevan dengan isi tulisan, masa kuda renggong pun ikut menari, kuda renggong kan artinya kuda yang menari, aneh… hehe


1 Comment

Filed under Kultur

Haji Irit

                                                       

                  Setiap kampung pasti memiliki seseorang yang menjadi ikon. Ketika SMP dulu, aku dan teman-teman sering bercerita tentang sosok paling beken di kampung masing-masing. Di kampung Misbach adalah Kapten Dulloh, seorang pensiunan ABRI yang kerap kali menstop anak-anak yang melewati rumahnya dan mengetes Pancasila beserta butir-butirnya. Kata Misbach, mereka lebih baik memutar arah daripada melewati rumah Kapten Dulloh. Misbach dan dua orang temannya pernah “pede” lewat depan rumah Kapten Dulloh karena Pak Kapten tak terlihat duduk di beranda, namun ternyata, dari dalam rumah muncul teriakan, “Berhenti! Siap Grak!” Spontan Misbach dan kawan-kawan berdiri mematung seperti disambar gledek. Setelah diberi aba-aba memberi hormat mereka dites mencocokan nama Pahlawan dan asal daerahnya, karena salah menyebut asal daerah pahwalan Kapten Pattimura, Misbach dihukum untuk menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini, yang berhasil ia nyanyikan namun dengan suara yang sangat fals. Misbach dan dua temannya berhasil lolos namun malang bagi Misbach. Karena sejak itu ia dijuluki si pales, sampai saat ini.

                Lain lagi di kampung Rumpon, yang terkenal disana adalah Mak Resmi, orang gila yang sering datang ke masjid kampung untuk mengaji. Ia selalu mengaji sambil berdiri di pintu masjid. Tak ada yang salah dengan ngajinya, tajwidnya benar, dan lagunya pas, kata Rumpon. Dan tidak ada respon berlebih dari penghuni masjid lainnya kala Mak Resmi datang dan mengaji, karena telah sangat terbiasa. Rumpon dan anak-anak lain juga sama-sama mengaji, hanya ketika Mak Resmi berjalan tiap anak menghindar sambil tertawa cekikikan, yang Mak Resmi tanggapi dengan senyum tipis. Tak ada yang takut pada Mak Resmi, ia orang gila yang baik, kata Rumpon.

                Di kampung Leli sosok yang terkenal adalah Kyai Bahri, seorang guru ngaji yang beristri delapan. Kampung Yana punya si Boncel, tukang sate yang bertubuh mungil. Sedangkan kampung Geri memiliki Si Rocky, kali ini bukan orang, namun anjing herder milik Pak Maksum, pensiunan polisi. Si Rocky ini aku sendiri tahu karena jika jalan-jalan naik motor ke kampung Geri aku pasti melihat Si Rocky di kandangnya yang megah tepat di seberang balai desa, tampaknya Si Rocky sengaja disimpan disana sebagai penjaga keamanan desa, dan menurutku ini sangat tepat, karena maling kampung akan lebih takut pada gonggongan anjing herder ketimbang orang yang meronda.

                Lalu siapa ikon kampungku? Aku ingat ketika itu aku menjawab: Haji Irit! Dan tampaknya, sampai sekarangpun jawabannya sama.

                Cukup panjang sebetulnya jika menceritakan Haji Irit, setidaknya dalam kacamataku. Kini, aku yang baru masuk kuliah ini menyadari banyak hal yang bisa diceritakan mengenai tokoh kampungku ini. Dulu, ketika smp itu aku hanya menceritakannya sesederhana ini:

                Irit adalah sebuah julukan bagi Pak Haji ini. Ia memang selalu mengatakan bahwa hidup itu harus irit! Setiap ada kesempatan pesannya adalah: kita harus irit, jangan boros! Menabunglah! Hemat pangkal kaya! Semenjak pergi ke kota untuk mengadu nasib menjadi buruh bangunan, rumahnya di kampung pelan-pelan berubah, dari sebuah gubuk berdinding bilik, menjadi berdinding bata, kemudian menjadi rumah gedongan, lalu berdiri parabola, satu-satunya parabola di kampung, dan kini rumahnya dipagari oleh pagar besi tinggi, sehingga muka rumah gedongannya, parabolanya, menjadi terlihat paling mencolok dari pinggir jalan. Jika pulang ke kampung, Haji Irit selalu berkesempatan untuk memberikan ceramah agama, dengan pesan tunggal: kita harus irit! Menabunglah! Hemat pangkal kaya! Sejak kecil aku dan teman-teman selalu berkumpul di rumah Haji Irit di sore hari dan minggu pagi untuk menonton film kartun. Kami duduk mengglosor di keramik yang bisa memantulkan wajah kami. Sementara Cepi, anak Haji Irit, duduk di kursi empuk, memegang remote. Kami menonton apa yang ia ingin tonton. Sementara bapak-bapak suka berkumpul di malam hari, setahuku mereka nonton film kungfu atau nonton TV Perancis. Ibu-ibu mungkin berkumpul pagi hingga siang, menonton acara yang aku tidak tahu, karena tentu aku tengah bersekolah. Haji Irit adalah orang paling kaya, paling sukses. Ia juga orang yang baik, suka memberi rezeki pada orang-orang. Kalau Lebaran ia suka membuat saweran di depan rumahnya. Ia selalu bilang bahwa ia kaya karena irit, lalu irit menjadi semangat setiap orang di kampung.

                Kini, tiga belas tahun setelah aku menceritakan tentang Haji Irit di SMP dulu, aku kembali ingin menceritakan Haji Irit. Hmm… bukan tentang Haji Irit sebetulnya, namun tentang kampungku. Haji Irit tetap orang paling kaya saat ini. Rumahnya tetap yang paling gedongan, bahkan wajah rumahnya sudah berubah, menjadi rumah dengan pilar-pilar gaya Yunani, atau Romawi, entahlah. Yang pasti pilar rumah itu dulu sering aku lihat di film kartun Saint Saiya. Haji Irit tetap mengumandangkan kata Irit, dan rasanya kosakata “irit” telah menjadi sebuah semangat desa kami sejak Pak Haji pertama kali mengumandangkannya. Saya masih ingat pertama kali ia berceramah ketika ia kembali dari Haji. Istilah irit ia kampanyekan pada berbagai acara, seperti pengajian Maulud Nabi, sambutan khitanan ponakan-ponakannya, di panggung agustusan, dan lain-lain. Dari dulu sampai sekarang, di kampungku hanya ada dua orang yang suka berceramah, Pak Kyai Syukron, dengan pesan agamanya, dan Haji Irit dengan pesan tentang iritnya. Meski berbicara tentang irit, namun ceramahnya tidak pernah irit, bahkan lebih lama dan lebih jenaka dibandingkan milik Kyai Syukron. Haji Irit orang yang sangat menyenangkan.

                “Irit itu ibadah, karena kita menjadi tidak mubadzir, tidak mubah. Jangan berpikir jadi kaya, tapi berpikirlah untuk irit! Saya bangun rumah, karena saya ngirit, tidak ingin beli ini itu yang tidak perlu, pokoknya ngirit karena ingin punya rumah gedong! Saya ingin beli mobil, saya harus ngirit, menabung, jangan foya-foya beli barang-barang yang tidak perlu, maka lama-lama kebeli itu mobil!” Kira-kira itu salah satu pesan Haji Irit yang saya ingat, saya lupa itu disampaikan dalam acara apa.

                Bagi Haji Irit, kaya itu bukan tujuan, tapi hidup dalam keprihatinanlah yang akan membuat kekayaan akan terkumpul dengan sendirinya. Baginya, disanalah letak kekayaan sejati, karena hidup prihatin melambangkan kerendahan hati dan ciri orang sabar.

                “Kalau ingin kaya, kita harus berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Saya ini pergi Haji karena bekerja keras, dan tidak berfoya-foya dari hasil pekerjaan, tapi uang itu diirit-irit! Ditabung! Hadirin semuanya ingin naik Haji, kan? Hadirin semua ingin punya rumah gedong, kan? Maka hadirin semua harus bersusah-susah dahulu. Pergilah ke Jakarta walau jadi tukang ngaspal jalan tak mengapa. Saya juga dulu ngaspal dulu sebelum jadi mandor tapi karena ngirit, saya jadi bisa nabung, jadi apa yang saya ingin punya bisa saya beli. Bekerjalah secara profesional, artinya, kita harus bertanggungjawab terhadap pekerjaan kita dengan itu kita bisa meningkatkan profesi. Dari ngaspal terus jadi mandor, dari mandor jadi kontraktor! Kalau diam di desa terus, kita jadi keenakan, tidak bisa bekerja keras! Mental kita jadi lemah! Kapan kita maju? Ingat! Bekerja keras, dan ngirit! Itulah kunci keberhasilan hidup! Dan jangan lupa berdo’a, karena rezeki Tuhan yang mengatur!” Begitu kampanye irit Haji Irit. Saya bisa merasakan suaranya yang mengelegar, membakar hati kami, membawa angan-angan kami ke luar angkasa.

                Demikianlah, karena konsistensi pesan tentang irit, maka ia dijuluki Haji Irit. Dalam kartu undangan pernikahan sering tertera “Turut mengundang Haji Irit”. Nama Haji Irit lebih sering muncul daripada nama aslinya. Ia sendiri sadar dengan julukan itu, dan kemudian ia gunakan sebagai identitas barunya. Memang cukup jitu strategi itu, Haji melambangkan kemuliaan spiritual manusia, irit adalah semangat hidup di dunia, kira-kira begitulah ayahku dulu menceritakan Haji Irit kepadaku. Ketenaran Haji Irit menjalar ke kampung tetangga. Haji Irit menjadi sosok panutan, tiap anak mencium tangannya jika berpapasan. Para orang tua kami selalu menyempatkan diri bersalaman sambil membungkukkan badan ketika bertemu dengannya. Rumahnya menjadi ikon desa, lambang keberhasilan desa. Setidaknya itu terasa ketika dulu aku harus menceritakan tentang desa kami kepada teman dari desa lain, bahwa desa kami itu lebih maju daripada desa lain karena punya rumah gedong dengan parabola dan pagar besi yang tinggi.

                Setelah itu, ngirit menjadi istilah untuk apa yang dicapai oleh Haji Irit dengan cara Haji Irit. Penduduk kampung terobesesi menjadi Haji Irit. Setelah makin sering Haji Irit mengkampanyekan gerakan ngirit, makin banyak pemuda di kampungku pergi ke Jakarta. Para orang tua merestui mereka, karena semua mendambakan anaknya menjadi Haji Irit. Bahkan semenjak sepuluh tahun terakhir, rasanya hanya tinggal segelintir pemuda yang tinggal di kampung, rata-rata mereka mendirikan warung, atau kini kios pulsa. Sebagian besar generasiku berangkat ke Jakarta setelah lulus SMP atau SMA, rata-rata menjadi buruh bangunan atau buruh pabrik di Tangerang. Mereka pulang dua bulan sekali dan pasti di momen-momen hari raya. Maka momen Lebaran menjadi momen yang riuh dengan pameran ke-Haji Irit-Haji Irit-an. Pemuda mengenakan pakaian terbaiknya, pemudi mendapat hadiah dari kekasihnya dari Jakarta. Motor-motor berseliweran, rumah-rumah dipoles dengan cat baru menjelang Lebaran. Tiap rumah bergema musik pop atau dangdut dari pengeras suara berkapasitas besar. Di malam hari, di sudut-sudut jalan, pemuda berkerumun dan tampaknya mulai berjoget tidak sadar. Dan tiga tahun terakhir ini, Lebaran di kampungku selalu diramaikan dengan tawuran pemuda. Tawuran pertama terjadi karena sentimen antar geng buruh di Jakarta yang dibawa-bawa ke kampung, tawuran kedua karena dua geng itu bersenggolan di acara konser dangdut pada pesta pernikahan penduduk kampung, dan tawuran ketiga yang paling aneh, karena keduanya ingin tawuran. Saya mulai ngeri, jangan-jangan tahun depan tawuran terjadi karena sudah menjadi tradisi. Dan mengapa Lebaran? Karena hanya waktu Lebaran lah semua penduduk yang merantau pulang kampung.

                Haji Irit juga mempengaruhi wajah kampung. Kini sebagian besar rumah sudah punya pagar. Ada yang pendek dan ada yang tinggi. Sebagian besar tampak masih dalam pengerjaan, dan pemandangan pagar setengah jadi itu telah biasa, proses pembangunan adalah tanda kemajuan.

Pak Rasyid menjual tanahnya yang cukup luas di sebelah barat kampung dan uangnya ditabung untuk naik Haji, maka ia menjadi Haji Rasyid. Sementara sekarang bekas kebun tebunya di barat kampung telah menjadi tanah yang gerowak karena dikeruk oleh perusahaan pengurugan tanah. Mang Sarpan menjual lima kudanya untuk membayar uang muka angkot dan kini lima delman Mang Sarpan telah hilang berganti satu angkot yang di malam hari parkir gagah di depan rumahnya. Dan yang paling fatal adalah Pak Kuwu, kepala desa kami. Ia menggelapkan uang kas desa untuk membangun rumah baru, yang rencananya akan ditinggali oleh istri mudanya, yang ia rebut dari Mang Komar, yang merantau ke Jakarta.

                Karena kejadian yang terakhir inilah kampungku gonjang-ganjing. Ayahku kini yang sedang repot. Ayahku kini memimpin desa untuk mendemo kepala desa. Partner ayah adalah sesepuh-sesepuh desa, yang menyimpan sejarah dan kearifan leluhur. Ayah dan para sesepuh desa kini menjadi motor pembaharuan desa, mencoba menjauhkan desa dari garis kehancurannya. Ayah melaporkan korupsi kepala desa ke kantor kejaksaan, juga mengumpulkan dana “syarat” pengaduan sebesar sepuluh juta agar kasus korupsi kepala desa segera diusut kejaksaan negeri. Rapat-rapat desa digelar. Pemuda-pemuda di desa mulai terbakar amarahnya. Mereka berdemonstrasi menuntut pertanggungjawaban kepala desa dan meminta pengembalian dana sebesar 400 juta yang jelas takkan mampu dikembalikan dengan segera. Pak Camat turun tangan meredakan massa, namun massa mengendus niat Pak Camat yang membela kepala desa dan akhirnya camat dituduh kecipratan uang haram. Bisa ditebak siapa penggerak dari pihak pemuda, Mang Komar, yang istrinya direbut sang Kuwu.

                Keadaan kampung kacau balau, namun tak ada yang menyentuh Haji Irit sebagai bagian dari kekacauan. Ayahku sendiri termasuk pengagum Haji Irit. Ia benar-benar menerapkan ngirit sehingga kini aku bisa berkuliah. Ayah seorang guru SD, dan tak punya kemampuan bisnis atau apapun selain menjadi guru. Ia ingin naik Haji, namun ia juga ingin aku berkuliah. Maka sampailah aku ke bangku kuliah, dan sampai pulalah aku bisa menuliskan kisah Haji Irit ini. Dan sampai pulalah aku sampai pada kesimpulan bahwa Haji Irit adalah penyebab kekacauan desaku. Semangat iritnya lah yang telah membawa perubahan cara berpikir orang kampung mengenai hidupnya. Dan kini dampak-dampak tak terduga mengenai semangat ngirit itu tengah memuncak kearah kehancuran desaku. Yang mengerikan lagi adalah, bahwa kini kampungku tak memiliki kader pemimpin, satu-satunya pemimpin yakni Pak Kuwu sendiri kini telah berkhianat. Ayahku? Rasanya ia takkan berpaling dan akan tetap menjadi guru. Aku? Tak pernah terpikir olehku kembali dan menetap di kampung.

                Haji Irit tentu tidak berdiam diri dengan kondisi kampung. Ia sendiri menyempatkan pulang dan mengumpulkan pemuka masyarakat di rumahnya dan ikut mensponsori pengaduan tindak korupsi kepala desa. Masyarakat mulai merasa tenang karena ketika segala sesuatu ada di tangan Haji Irit maka semua akan sukses. Maka Haji Irit tak tersentuh noda apapun. Ia bersih di mata dirinya sendiri dan di mata warga kampung. Aku. Hanya aku yang menganggapnya bersalah. Itupun tak pernah aku kemukakan, karena aku rasa pendapatku ini akan dianggap tidak masuk akal. Menyalahkan Haji Irit sebagai sumber kekacauan desa adalah sebuah tuduhan penghinaan. Bisa-bisa aku dianggap memfitnah. Lagipula, Haji Irit bisa melakukan apapun untuk menuduhku balik, dengan kekuatan pengaruhnya, mungkin sekali ia bisa melaporkan bahwa aku telah melakukan tindakan pencemaran nama baik.

                Lalu? Aku hanya pembuat cerita, kuliahku sendiri adalah sastra. Jadi, biarlah aku jadikan kisahnya sebagai fiksi belaka. Untuk menghibur pembaca koran di waktu senggang. Lagipula demikian pula namaku akan dikenal orang. Dosenku akan anggap aku pintar, juga bisa mendapat penghasilan tambahan.

Bandung, 13 Oktober 2010

1 Comment

Filed under Fiksioner

Transformasi Avatar

Avatar, kata ini dalam dua tahun terakhir sering menghampiri telinga kita. Kini ada rupa-rupa cara orang sedunia memaknainya, ada yang mengasosiasikannya dengan Film 3D karya James Cameron yang fantastis, ada yang merujuk pada sosok Aang “the last airbender”, atau ada juga yang mengenal Avatar sebagai ikon yang merepresentasikan diri kita di dunia maya. Atau, masihkan ada yang mengasosiasikannya dengan Kresna?

Sejatinya, kata avatar berasal dari tradisi Hindu yang berarti manifestasi unsur ke-Tuhanan dalam wujud manusia. Lebih spesifik lagi adalah reinkarnasi Dewa Wisnu, sang Dewa pemelihara, ke dalam tubuh manusia terpilih. Dalam epik Mahabarata, Ramayana dan Arjuna Wiwaha kita akan menemukan sosok Kresna, Sri Rama dan Arjuna Sasrabahu, para avatar. Namun, dua tahun terakhir ini, ‘avatar’ menjadi milik Holywood, dan dengan kekuatannya ‘avatar’ kembali mendunia.

Dua film berjudul Avatar menarik perhatian saya dan dunia. Film Avatar yang pertama muncul menjelang Natal tahun 2009. Cerita science-fiction ini telah ditulis James Cameron 15 tahun yang lalu sebelum ia memproduksi Titanic, namun momentum untuk memproduksinya hadir lima tahun yang lalu, saat teknologi 3D memungkinkan imajinasi Cameron terwujud. Saya akui film ini memang dahsyat, saya sempat termenung setelah menikmati film ini. Pertama karena sensasi 3D yang sangat membuai, kedua karena James Cameron mengambil cerita tentang kekalahan manusia modern. Plot film ini tidak istimewa, jalan cerita linear yang sama sekali tidak memberikan surprise. Namun buat saya cerita film ini tetap menarik karena makin menegaskan urgensi bagi kita untuk melakukan transformasi. Meng-avatar-kan diri.

Avatar kedua berjudul The Last Airbender (2010), jilid pertama dari empat jilid Avatar. Anak-anak di Indonesia mengenal sosok Aang lewat serial kartun berjudul Avatar, The Legend of Aang di stasiun Global TV sementara anak-anak di belahan dunia lain menontonnya di tv jaringan Nickelodeon. Meski diadaptasi dari serial kartun, The Last Airbender tidak komikal. Tokoh-tokohnya dibuat berkarakter serius oleh sutradara M. Night  Shyamalan.

Humanisme Vs Ekologisme

Baik Avatar maupun The Last Airbender bercerita tentang maksud yang serupa. Avatar menceritakan penjajahan yang dilakukan manusia di tahun 2154. Yang dijajah bukan lagi belahan bumi lain, namun sebuah planet bernama Pandora yang dihuni oleh suku Na’vi. Avatar yang dimaksudkan film ini adalah sosok hibrid, tubuh Na’vi yang bisa dikendarai jiwa manusia. Jake Sully (Sam Worthington), mantan tentara, menerima tugas untuk mengendarai tubuh Avatar. Tugasnya adalah mengumpulkan data suku Na’vi dan memberikan pengertian pada penduduk Na’vi untuk menyingkir dari lokasi mereka karena lokasi tempat tinggal mereka tepat berada kaya akan unobtanium, mineral mahal yang menjadi tujuan penjajahan. Kisah penjajahan seperti itu telah sama-sama kita kenal dalam sejarah kemanusiaan.

Avatar yang dimaksud oleh James Cameron bukan hanya transformasi tubuh dan jiwa, namun juga tugas kehidupan. Perkenalan Jake Sully dengan Na’vi, alam Pandora dan romantika bersama Neyfiri (Zoe Saldana), anak kepala suku Na’vi, membawa Jake pada transformasi paradigma hidupnya. Jake berkhianat pada konsep humanisme modern. Konsep ini bisa kita telusuri dari pernyataan Descartes “Cogito Ergo Sum” yang membawa peradaban menjadi saintis, teknologis, dan manusia menjadi pusat dunia. Hasrat itulah yang membawa manusia ke alam Pandora untuk mengambil sumber daya alam, namun ternyata kolonialisme itu bukan sekedar akan menghancurkan alam namun juga kebudayaan yang ada disana. Dalam Avatar peperangan antara manusia dengan Na’vi adalah peperangan menghancurkan pohon versus mempertahankan pohon. Manusia menganggap pohon adalah objek material, namun Na’vi menganggap pohon sebagai simbol transendental mereka. Jake diceritakan telah diberkahi oleh Eywa, sebutan untuk Tuhan dalam bahasa Na’vi, dan Jake mendapati dirinya mengemban tugas untuk mempertahankan alam Pandora dan juga penduduknya. Jake memilih bertransformasi tugas kehidupan, dari seorang humanis-modern menjadi seorang tradisional-ekologis kemudian memimpin peperangan melawan manusia.

James cameron menyatakan dalam wawancaranya dengan The /Filmcast Interview bahwa ia sadar orang ingin menonton film untuk mendapatkan hiburan dan ia ingin menghibur orang. Ia tidak ingin membuat orang-orang merasa bersalah dengan dirinya, ia hanya ingin penonton menyadari perasaan menghormati bumi dan mengambil tanggung jawab dalam menjaganya. “Its stuff you already know, it’s not hard to teach, and its not here to preach. But it does give you an emotional context for the information you already have”, ujar Cameron.

Berbeda dengan Avatar, film The Last Airbender menceritakan sebuah dunia manusia yang berbeda, dunia dimana manusia hidup bersama unsur alam yakni angin, air, bumi dan api. Masing-masing unsur itu menjadi nama negeri dengan karakter penduduk yang bisa mengendalikan unsur-unsur tersebut. Film The Last Airbender bernuansa martial art. Berbeda dengan Avatar yang tokoh-tokohnya berkelahi dengan cara pertarungan bebas, dalam The Last Airbender manusia berkelahi dengan gaya seni beladiri dan menggunakan tenaga-tenaga magis dalam pertarungannya khas China. Hal tersebut merupakan ciri khas kartun superhero Asia, dimana tokoh-tokohnya mampu menggunakan tenaga dalam dan berbagai kekuatan ajaib. Dan Aang (Noah Ringer),  sang Avatar dalam The Last Airbender, merupakan pengendali keempat unsur tersebut dan ia seperti Avatar sebelumnya bertugas menjaga keseimbangannya.

Musuh Aang adalah Negeri Api yang tengah melakukan ekspansi kekuasaan ke negeri lainnya. Negeri Api berkarakter sama dengan ‘manusia’ dalam film Avatarnya James Cameron, rakus kekuasaan dan menggunakan teknologi sebagai kekuatan utamanya. Dalam latar kisah dimana penduduknya hidup dalam kesadaran ekologis, ternyata ada saja kaum yang berkehendak melanggarnya dan mengakibatkan ketidakseimbangan alam. Kemajuan Negeri Api dalam bidang teknologi membawa bencana pada kebudayaan lain yang bertahan dalam konsep ekologis. Seperti dalam film Avatarnya James Cameron, peperangan terjadi antara manusia yang berkarakter teknologis versus manusia berkarakter ekologis. Disini saya juga ingat beberapa film yang menceritakan hal serupa seperti trilogi Lord of the Rings.

Jadi, konflik kedua film tersebut sebetulnya klasik, yakni “good vs evil”. Tesisnya adalah teknologi dan manusia yang teknologis adalah “the evil” dan manusia ekologis adalah “the good”. Avatar adalah penyeimbang alam dan pemimpin perlawanan.

Kesadaran mengenai dampak negatif teknologi dan industrialisasi sebetulnya telah populer sejak setengah abad yang lalu. Cameron adalah sosok yang besar di era perkembangan konsep environmentalisme tahun 60-70an. Meski tidak pernah menjadi aktivis lingkungan, namun pemahaman mengenai environmentalisme melekat dalam dirinya. Sedangkan Cerita Avatar, The Legend of Aang lahir sangat jelas menampilkan pengaruh kebudayaan Asia yang dalam kebudayaannya melekat konsep hidup ekologis. Uniknya, dalam dunia film tersebut, sang Avatarlah yang seakan bisa mengalahkan “the evil”. Kisah tersebut membawa pertanyaan besar bagi saya, mungkin juga bagi kita semua, apakah kita harus menunggu sang avatar untuk mengembalikan keseimbangan dan memperbaiki kerusakan akibat kerakusan manusia dan penyalahgunaan teknologi?

Avatar dan Transformasi Kesadaran

Saya jadi mengingat kembali buku Titik Balik Peradaban karya Fritjof Capra. Dalam paragraf pembukanya penulis yang juga dikenal sebagai penulis The Tao of Physic itu mengatakan bahwa pada awal dua dasawarsa terakhir adab kedua puluh, kita menemukan diri kita berada dalam suatu krisis global yang serius. Ia menggarisbawahi krisis itu sebagai krisis dalam dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spiritual. Kalimat terakhir paragraf itu agak mengerikan: “Untuk pertama kalinya kita dihadapkan pada ancaman kepunahan ras manusia yang nyata dan semua bentuk kehidupan di planet ini”.

Hubungan erat Titik Balik Peradaban dengan dua film Avatar adalah bahwa teknologi memungkinkan terjadinya bencana tersebut. Capra menelaah kemajuan teknologi nuklir yang dampaknya negatifnya bisa menghancurkan bumi. Negara maju kini tengah berlomba dalam pengembangan senjata nuklir dan ambisi ‘kemajuan’ tersebut amat mengkhawatirkan karena daya rusaknya yang tak terbayangkan. Lihat saja, ketegangan antara Korea Selatan dan Korea Utara berkutat di permasalahan tenaga nuklir. Akankah perang nuklir terjadi? Siapakah yang bisa mencegahnya? Apakah harus sang Avatar?

Kita bisa saja memaknai ke-avatar-an itu dengan subjektif. Mari kita lihat apa yang dilakukan oleh Cameron dimana ia mencoba membuat Avatar bukan semata-mata sosok kiriman Tuhan. Namun juga manusia yang bertransformasi. Jake sendiri adalah seorang yang cacat lumpuh kaki, ia hanya manusia biasa. Namun setelah bertransformasi fisik menjadi salah satu avatar, ia bertransformasi secara pemikiran, kesadaran, nilai, dan sikap. Ia bertransformasi secara paradigma lalu kemudian melawan. Artinya, kita semua juga bisa melakukannya, dengan upaya kritis untuk melihat ke lebih dalam pada kemanusiaan, alam, dan dimensi Ilahiah yang menghubungkan keduanya.

Legenda Avatar dalam semua budaya rasanya mengatakan hal yang sama. Kresna menyeimbangkan keadaan konflik sosial dengan cara membantu tokoh-tokoh yang terlibat dalam perang Baratayudha memaknai dharma dan karma. Sri Rama mengenyahkan kerakusan manusia akibat hawa nafsu. Jake mengusir penjajah yang ingin memperkosa alam, dan Aang berperang demi keseimbangan alam. Yang dilawan juga berdimensi sama, yakni unsur kerakusan, penjajahan, pengrusakan alam, dan kesombongan. Mengenali musuh-musuh para Avatar itu adalah modal bagi transformasi diri kita sendiri, tanpa harus menjadi Avatar yang sesungguhnya. Selamat bertransformasi!

1 Comment

Filed under Kultur

KARANG TARUNA, DAN SEMANGAT “BERMAIN” OLAHRAGA

Tim Thomas dan Uber kita kalah. Lagi-lagi kalah. Padahal masyarakat begitu larut pada pestanya. Di kontrakan saya, kontrakan teman saya, di rumah Pak Supriatna di Jatinangor, di rumah orang tua saya di Cirebon, di Perpustakaan Batoe Api, dan di tiap-tiap rumah semua orang merasuk pada harapan yang diemboskan iklan-iklan tentang: bahwa inilah saatnya Indonesia meraih kembali supremasi bulutangkis dunia. Berlebihan, kata saya. Dan saya sendiri sejak gembar-gembor penyelenggaraan Thomas-Uber Cup di media massa sudah sangat yakin bahwa kita tidak akan juara. Sinis memang, tapi entahlah, saya yakin seyakin-yakinnya memang kita akan kalah.

Dan benar saja, kita tidak menjadi juara seperti yang digembor-gemborkan dalam iklan. Meski media kemudian menghibur publik dengan mengangkat keberhasilan tim uber yang masuk final sebagai obatnya. Kalah dari Cina mah wajar, katanya.

Tapi, andai saja kita mau menelusuri mengapa prestasi kita terpuruk, hampir di segala bidang, apalagi olahraga. Dalam dunia olahraga, Indonesia memang tidak punya bakat juara, satu-satunya mungkin bulutangkis ini, tapi inipun saya lihat mengalami kemerosotan prestasi yang terus menerus, dan saya curiga, kemerosotan prestasi ini seiring dengan perkembangan media. Loh, apa hubungannya dengan media massa?

Media massa menciptakan kultur pop. Popularitas menjadi tujuan, dan media massa adalah jalan tolnya. Begitu juga cara pemerintah kita mengurusi negara, melalui media massa. Dan urusan pemuda dan olah raga oleh menterinya dibawa kesana. Saya pernah lihat Pak menteri, yang kata orang benar-benar mewakili pemuda karena umur dan gayanya, malah mengurusi soal Dewi Persik di acara debat di sebuah tv swasta. Ketika nonton acara itu saya langsung teringat kampung halaman, ingat karang taruna disana yang kini tinggal nama. Lalu kemudian iklan-iklan yang isinya melambungkan harapan bagi kemenangan tim bulutangkis kita digemborkan sebuah oleh sebuah produk rokok, padahal di kampung saya orang-orang sudah sangat jarang yang main bulutangkis. Semuanya bertolak belakang, televisi menampilkan realita baru yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataannya yang ada dalam kultur bangsa kita.

Entahlah, mudah-mudahan dibelahan Indonesia lainnya justru apa yang digemborkan oleh tivi justru sesuai dengan keadaan, bahwa bangsa kita memang sedang dalam gairah olahraga. Namun, sepanjang pengamatan saya dan diskusi dengan berbagai pihak, kultur olahraga bangsa kita memang tengah menurun dan terus menurun. Dulu, ketika saya kecil main sepakbola dan bulutangkis adalah sebuah rutinitas wajib, tiap pagi atau sore. Bahkan di bulan puasa, jalanan di pagi hari penuh dengan anak muda yang bermain bulutangkis. Dulu, dibelakang rumah ada lapangan voli, ramainya minta ampun kalau sore, sekarang sudah tak ada yang bermain lagi. Lapangan bulutangkis di samping balai desa sekarang lebih sering jadi tempat parkir. Lapangan basket yang saya dirikan dengan saudara dan teman-teman saya kini sudah tak terawat, tidak ada yang bermain lagi. Karang taruna? Hanya punya ketua, tidak punya anggota. Kegiatanyya? Mau bikin kegiatan apa kalau anggota saja enggak punya! Dan ternyata, saya tanya ke ayah saya di desa, di desa sekitarpun kondisinya sama saja.

Saya ngobrol dengan Pak Supriatna tentang masalah ini. Dulu, di Jatinangor, tiap dusun memiliki tim bola voli sendiri. Tiap dusun lho! Bukan tiap desa! Bahkan seorang pemuda akan lebih dikenal dengan atribut tim bola volinya, daripada identitas lainnya. Tim-tim tersebut memang sangat populer karena ada turnamen rutin yang membuat tim-tim tersebut unjuk gigi dan popularitas. Ayah Pak Supriatna sendiri adalah pemain Persib era 60-an. Bakatnya ditemukan oleh seorang staf Persib ketika bermain di turnamen antar kampung. Zaman dulu, kata Pak Supriatna, para pencari bakat mencari pemain di turnamen antar kampung, karena tarkam dulu sangat bermutu. Sekarang, tidak ada lagi tim bola voli di Jatinangor, dan tarkam semakin jarang. Pak Supriatna sendiri sangat menyayangkan.

Saya melihat gelagatnya dari sepuluh tahun terakhir. Itu adalah masa ketika media massa menjadi wahana utama di negeri kita. Bisnis media menanjak, tapi prestasi bangsa kita menurun. Saya sendiri belum secara serius mencari korelasinya, namun dalam benak saya selalu terngiang: popisme menghancurkan kebiasaan bangsa kita untuk bermain-main. Kultur menjadi hancur. Pemusatan wacana dalam media membuat kultur menjadi terpusatkan, di tubuh media itu sendiri. Sementara media bukanlah lembaga yang solutif, sangat pragmatis, yang menggunakan wacana sebagai produknya. Tanpa usaha-usaha serius untuk membantu mencarikan solusi bagi masalah yang muncul. Dan saya kecewa, pemerintah kita terbuai. Menteri olahraga lebih sering muncul di tivi daripada menyambangi kampung-kampung untuk membenahi dan memberikan pengarahan untuk mempertahankan kultur olahraga atau kreativitas pemuda. Karang taruna-karang taruna mati. Dan dibiarkan begitu saja. Pasalnya, setiap prestasi, setiap kemenangan tidak akan bisa dimenangkan melalui kebiasaan instan. Proses yang mentradisi lebih diyakini akan menghasilkan prestasi yang maksimal. Brasil dan argentina, besar dalam sepakbola karena sepakbola sendiri menjadi sesuatu yang merasuk dalam kultur mereka. Rakyatnya main bola dimanapun, dijalanan, di tempat-tempat yang tidak bisa disebut sebagai lapangan sepakbola. Tapi begitulah, kultur bermain yang kemudian menciptakan prestasi.

Di negara kita, kultur bermain kian kemari kian hancur. Selain media yang selalu menciptakan standar bagi kegiatan olah raga, konsep ruang berolahraga juga bergeser. Kebiasaan bermain bulutangkis di sembarang tempat hancur karena keberadaan GOR, kebiasaan bermain bola di sembarang tempat hancur karena adanya GOR Futsal. Keberadaan GOR-GOR itu menciptakan eksklusivitas bagi olahraga-olahraga tersebut. Masalahnya untuk main di GOR dibutuhkan biaya, jadi yang melarat akan tertutup kemungkinannya untuk main di GOR, sementara main di sembarang tempat menjadi hal yang inklusif. Ditambah lahan-lahan kosong makin habis.

Kehancuran karang taruna, keberadaan ruang eksklusif untuk berolahraga, ditambah media yang lebih memihak untuk mempopulerkan keeksklusivitasan olahraga, membuat bangsa kita makin menjauh dari kultur berolahraga sambil bermain. Lagu “Badminton” yang dinyanyikan Benyamin S tiangal nyanyian belaka. Bermain badminton di kebun bambu, dengan net dari kain samping dan raket dari penggebuk kasur, menjadi sulit dicari lagi. Sekarang semuanya mesti serius, yang mesti dibenahi dari kekalahan tim Thomas-Uber adalah pelatnasnya, sementara 200juta lebih bangsa kita yang mungkin saja diantara mereka ada penerus Rudi Hartono tidak docoba untuk diperhatikan, melalui pembinaan karang taruna misalnya.

Ahh… tapi mudah-mudahan pikiran saya ini salah. Mudah-mudahan memang di belahan Indonesia lainnya karang taruna disana justru maju dan bermutu. Semoga saja…

Leave a Comment

Filed under Kultur

LAGU NASIONAL; UNTUK APA ITU SEMUA?

Api Kemerdekaan, Bagimu Negri, Bangun Pemudi Pemuda, Bendera Merah Putih, Berkibarlah Benderaku, Bhinneka Tunggal Ika, Dari Sabang Sampai Merauke, Garuda Pancasila, Halo-Halo Bandung, Hari Merdeka, Ibu Kita Kartini, Indonesia Pusaka, Indonesia Raya, Indonesia Tetap Merdeka, Maju Tak Gentar, Rayuan Pulau Kelapa, Mars Bambu Runcing, Mars Harapan Bangsa, Mars Pancasila, Satu Nusa Satu Bangsa, Syukur, Tanah Airku, Teguh Kukuh Berlapis Baja,

Untuk apa itu semua?

Keresahan ini, berawal ketika saya menyaksikan Mukti-Mukti di Fakultas Sastra Unpad. Saya sangat ingin menyaksikannya lagi, Mukti-Mukti mendendangkan Rayuan Pulau Kelapa dengan begitu syahdu, badan saya bergetar seiring dawai kecapi cina yang dimainkan dengan begitu cermat oleh Siska, salah satu personil yang mengiringi Mukti bernyanyi. Dan senar yang bergetar itu, membawa Rayuan Pulau Kelapa kedalam sanubari saya. Rayuan Pulau Kelapa, lagu yang begitu indah dan damai, sebuah tembang dengan kategori “Lagu Nasional”. Dan setelah malam itu, banyak pertanyaan muncul dalam benak saya, tentang Rayuan Pulau Kelapa dan lagu nasional lainnya.

Sekarang menjadi suatu rutinitas, ketika mata belum terpejam sampai sepertiga malam, saya sempatkan mencari channel tv yang mau tutup tayang. Di Trans7 saya khusyuk menyimak Rayuan Pulau Kelapa, di Trans tv lagu Tanah Airku menemani pencarian kantuk saya. Namun, semakin saya menikmati lagu-lagu merdu tersebut, semakin saya banyak bertanya. Untuk apa lagu-lagu nasional diciptakan? Untuk apa lagu-lagu nasional diajarkan? Untuk apa lagu nasional untuk kita semua?

Saya akhirnya sering menanyakan pertanyaan itu pada orang-orang yang saya temui. Hampir semua orang yang saya tanya menyampaikan jawaban yang bersifat antipati. Hampir semuanya menyangkal sisi penting keberadaan lagu-lagu nasional. Hampir semuanya bilang lagu-lagu nasional tidak ada maknanya bagi mereka. Betulkah?

Saya mengingat-ingat, saat-saat saya diajarkan lagu-lagu nasional. Saya suka pelajaran kesenian, karena diantara menggambar yang merupakan hobi saya, saya juga diajarkan menyanyi, dengan lagu-lagu nasional sebagai menunya. Saya tanyakan pada ibu saya yang guru SD, apakah lagu nasional masih diajarkan, jawabannya tentu saja masih diajarkan. Wajib malahan. Saya ingat-ingat, guru saya tidak pernah menceritakan lagu-lagu nasional itu untuk apa, dan mengapa tercipta. Dan saya tanya ke Pak Supriatna yang juga mantan guru SD, apakah murid diceritakan tentang esensi lagu-lagu nasional yang diajarkan? Jawabannya, gurunya sendiripun tidak tahu sisi historis lagu-lagu nasional.

Di kepala saya, yang sedang belajar menjadi seorang fiksioner, ada banyak sekali reka adegan. Seorang guru tengah mengajarkan Maju Tak Gentar kepada murid di kelas. Guru itu menuliskan not balok dan liriknya, kemudian mengajarkan nada-nada sebuah lagu nasional. Murid-murid begitu semangat, karena selain ritme lagu yang menggugah semangat, pelajaran kesenian dengan materi belajar bernyanyi lagu nasional merupakan pelepas stress setelah pusing menghitung dan capek mencatat. Murid-murid juga diajarkan lagu Rayuan Pulau Kelapa yang amat syahdu, meski agak acak-acakan karena lagu ini memang agak sulit, namun anak-anak tetap senang riang gembira. Murid-murid pulang, mereka bergandengan tangan sambil menyanyikan lagu yang barusan diajarkan.

Segerombolan mendendangkan Rayuan Pulau Kelapa:

Tanah airku Indonesia,Negeri elok amat kucinta, Tanah tumpah darahku yang mulya, Yang kupuja s’panjang masa, Tanah airku aman dan makmur, Pulau kelapa yang amat subur, Pulau melati pujaan bangsa sejak dulu kala, Melambai-lambai, nyiur di pantai, Berbisik-bisik, Raja K’lana, Memuja pulau, yang indah permai, Tanah airku… Indonesia.

Namun, terlalu banyak anak-anak Indonesia yang bukan si Bolang. Seperti anak-anak dalam imaji saya yang pulang sekolah itu, meski Rayuan Pulau Kelapa dari mulut mereka, namun pabrik-pabrik, toko-toko, sawah yang terhimpit perumahan, sampah berserakan, kendaraan balap-balapan, asap knalpot, preman di perempatan, selokan hitam, dan diri anak-anak itu sendiri tak mampu merepresentasikan Rayuan Pulau Kelapa. Namun, anak-anak itu tetap menyanyikannya, selain menyanyikan lagu-lagu D’Massive, Ungu, Dewa, Kangen Band. Rayuan Pulau Kelapa dihafal karena gurunya mengharuskan mereka menghafalkannya, karena akan dites di ujian akhir semester misalnya. Sore harinya mereka janjian main bola. Mereka bermain disamping lapangan futsal, padahal lapangan futsal itu dulu adalah lapangan tempat main mereka. Seorang anak berujar dengan kesal bahwa hak mereka dirampas, dan berinisiatif melempari lapangan futsal itu sambil menyanyikan Maju Tak Gentar. Yang lain mengikutinya, sorak sorai Maju Tak Gentar membahana. Sampai ada suara sesuatu yang pecah, disertai teriakan satpam dari dalam area lapangan futsal, anak-anak itu kocar-kacir berlarian, sambil tetap menyanyikan Maju Tak Gentar.

Tentu saja yang diatas itu hanyalah fiksi dalam imaji saya. Namun semuanya mungkin terjadi, saya yakin itu. Lagu-lagu nasional itu, yang diajarkan di kelas-kelas sekolah dasar sampai menengah atas, sifatnya ahistoris. Lagu-lagu itu diajarkan tanpa penjelasan historis sehingga setiap anak bebas menginterpretasikannya. Ketika anak-anak tidak diajarkan untuk apa Maju Tak Gentar diciptakan, mereka menjadi bebas menggunakan lagu-lagu itu sesuai suasana yang menjadi realitas mereka. Lagu-lagu nasional seperti Maju Tak Gentar, Bangun Pemudi Pemuda, dan Halo-Halo Bandung memiliki nada yang menggugah semangat, nada patriotik! Cocok untuk menjadi soundtrack protes mereka terhadap realita. Dan jika protes itu bersifat destruktif? Karena bagi mereka destruktif itu adalah sesuatu yang patriotik? Toh setiap manusia selalu mencari soundtrack bagi hidup mereka.

Bagi anak-anak di Batu Karas, di pantai-pantai indah di Bali, Lombok, atau dimanapun, Rayuan Pulau Kelapa akan menjadi lagu yang sangat pas untuk kondisi mereka. Tapi mari bayangkan seorang anak di tengah hiruk pikuk kota Jakarta, Bandung, Surabaya, bahkan kota pinggiran seperti Jatinangor atau Ujung Berung, ketika lagu itu harus mereka hafal, namun apakah mereka tau bagaimana “nyiur melambai”? Apakah mereka punya bayangan tentang “pulau kelapa yang amat subur”? Acara Si Bolang memang memperlihatkan fenomena itu, namun toh anak-anak itu takkan mampu untuk menembus layar 14 inci untuk bisa main-main pasir di pantai bareng si Bolang… Di kota, seperti kata Galih dalam lagunya ‘Sore’, burung gereja pun bertengger di pucuk antena…

Lagu-lagu nasional itu, yang harus dihafal di sekolah, menjadi hampa dan kehilangan ruhnya. Lalu untuk apa itu semua? Karena kita semua mungkin mengamininya – kehampaan dalam lagu-lagu itu – karena ketidakpuasan kita terhadap negeri ini yang selalu menjadikan lagu-lagu nasional sebagai alat propaganda. Di masa Soeharto, lagu-lagu nasional ini menjadi kidung nina bobo, alat untuk membuat rakyat luput menyadari kebobrokan pemimpinnya. Namun di masa sebelumnya, lagu-lagu nasional ini mungkin menjadi dopping pejuang Indonesia melawan gempuran sekutu. Entahlah, Saya sendiri masih mencari-cari jawabannya.

Sebagai anak yang lahir di sisi Situ Lengkong Panjalu, sempat tinggal di Pangandaran, dan kini menetap di Cirebon, saya sangat menghayati Rayuan Pulau Kelapa. Namun sebagai pemuda yang besar di Jatinangor dan suka main di Bandung, saya juga turut berempati pada yang tidak mampu menghayati Rayuan Pulau Kelapa…

9 Juli 2008

(Ulang tahun Mama saya)

Leave a Comment

Filed under Kultur

BUMI MANUSIA DAN MAHABARATA

Beberapa saat yang lalu seorang teman bertanya buku apa yang mempengaruhi saya? Sesaat saya mikir-mikir…. apa yah? Otak saya memutar kembali rekaman ketika saya membaca berbagai buku dan bagaimana pengaruhnya, lalu saya juga memutar rekaman tentang apa saja yang telah saya lakukan dan terinspirasi dari buku apa, dan saya juga kemudian berpikir tentang saya saat ini, buku apa yang begitu berpengaruh pada saya saat ini?

Kemudian saya menjawab: BUMI MANUSIA dan MAHABARATA

Bumi Manusia, sebuah tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), saya baca ketika pertama kali saya mengenal Batoe Api. Empat buku yang menjalin kisah tentang Minke, seorang anak zaman diawal abad ke-20, yang dikisahkan Pram sebagai inisiator pergerakan zaman. Selain gaya bertutur novel yang mengagumkan, bumi manusia memberikan begitu banyak pengetahuan –benar-benar pengetahuan- yang melebihi apa yang sudah saya dapatkan di pelajaran PSPB dulu. Jalinan kisahnya bercampur dari romantis sampai ke heroik. Tapi sang pahlawan bukannya tanpa cela dan cacat, Pram dengan jitu menciptakan Minke yang pahlawan menjadi manusia yang semanusianya. Khilaf, berahi, menang dan kalah sekaligus. Gambaran setting Bumi Manusia juga nyaris sempurna, membuat saya tidak yakin ada seorang sutradara yang sempurna memfilmkan Bumi Manusia.

Namun, bukan sastranya yang benar-benar mempengaruhi saya. Sejarah, itulah oleh-oleh yang saya dapatkan dari Bumi Manusia. Bukan hanya kisah-kisah di masa lalu, namun juga pemahaman untuk memahami sejarah itu sendiri. Melalui novel Jejak Langkah biografi Minke menjadi semakin jelas dan nyata. Realisme Historis Sosialis, begitulah Jejak Langkah. Pram menceritakan gerak-gerik Minke menjadi sangat mengundang rasa penasaran, membuat saya semakin menggebu bertanya: siapakah dia? Nyatakah dia? Karakter-karakter lain dalam Jejak Langkah juga mengundang rasa ingin tahu, apakah Wardi adalah Soewardi Soerjaningrat? Apakah Cipto adalah Mangunkusumo, dan apakah Douwess adalah Dekker? Lalu, siapakah Marco dan Siti Soendari?

Bagi saya, tokoh-tokoh diatas lebih menarik daripada Annelis dalam novel Bumi Manusia. Siti Soendari lebih menarik daripada R.A. Kartini. Kemudian, sebelum saya membaca novel terakhir, Rumah Kaca, saya mencari tahu lebih jauh tokoh-tokoh tersebut. Ternyata Minke adalah Tirto Adhi Soerjo. Seorang yang tidak saya kenali sebelumnya, karena tidak terdapat dalam pelajaran sejarah sejak SD sampai SMA. Dan surat kabar Medan adalah Medan Prijaji, mahakarya Tirto yang amat mengguncang zaman. Dan ternyata, Wardi adalah seorang yang kemudian kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara, Cipto memang Mangunkusumo, Douwess memang Dekker, lalu Marco? Siapakah tukang pukul yang kemudian menjadi redaktur surat kabar Medan itu?

Dalam Rumah Kaca, Marco menjadi sosok penting, sangat penting. Pram dalam Bumi Manusia ini memberikan pengetahuan pada saya tentang tokoh-tokoh penting yang dilipat sejarah, dan setelah Tirto, Pram memperkenalkan Marco pada saya. Sangat amat penasaran, saya memutuskan mencari tahu tentang Marco dengan serius. Dan Identitas Marco akhirnya saya kumpulkan untuk kemudian membuahkan sebuah penelitian bernama: Identitas Mas Marco Kartodikromo. Itu adalah skripsi saya sendiri. Pencarian identitas Mas Marco adalah pekerjaan yang sangat penting yang telah saya lakukan. Paling penting selama saya di kampus malah. Lebih penting daripada menjadi ketua KGF, pengurus HMJ, mendirikan Ventilasi dan menghidupkan Ruang Studi Jatinangor. Menemukan Mas Marco adalah pencapaian intelektual saya. Dan menemukan Mas Marco membuat saya memahami bahwa ternyata ada jurnalis yang keren, yaitu jurnalis-jurnalis pada masa pergerakan nasional, dan pemimpinnya adalah Mas Marco dengan Doenia Bergerak sebagai organnya.

 Sampai sekarang, identitas saya tersangkut pada “upil yang suka sejarah”. Saya ingat dulu ketika SMP ayah saya sempat nanya: pelajaran yanga kamu suka apa? Saya jawab: sejarah! Dan ayah saya marah karena dia menilai saya seharusnya lebih menyukai matematika atau IPA. Namun, ternyata jawaban saya dulu itu adalah jawaban yang paling jujur, karena sampai sekarang kalau disuruh memilihpun saya akan memilih menjadi sejarawan daripada wartawan. Dan Bumi Manusia adalah salah satu gerbang saya memasuki lingkungan sejarah. Bumi Manusia membawa saya melanglangbuana ke seluk-seluk di masa lalu. Memang, pencarian saya baru sebatas sejarah di masa pergerakan, tapi itupun telah membuat saya sangat terlena, apalagi memasuki masa yang lain? Sekarang, buku-buku tentang kerajaan-kerajaan di nusantara tengah saya lahap. Namun tenang saja, saya tidak suka pada pemahaman sejarah yang romantis. Saya kan belajar dari Pram yang sangat kritis, maka saya harus memahami sejarah dengan kritis. Dan kelas Foucault di RSJ memberikan metode pada saya untuk menulis sejarah: Arkeologi ala Foucault.

Begitulah Bumi Manusia. Apa kabar Mahabarata?

Kisah wayang adalah kisah yang paling sering ayah saya ceritakan sejak saya kecil. Saya tidak pernah menyelesaikan menonton pertunjukkan wayang golek, tapi saya suka mendengarkan ayah saya menceritakan kisah wayang. Lalu sejak SMP saya membaca kumpulan buku Mahabarata. Buku itu berperan penting dan membuat saya menjadi salah satu anak yang suka wayang diantara anak lain yang suka main nintendo. Saya juga main nintendo dan main basket, tapi saya baca Mahabarata. Namun sayang, buku itu beberapa bulan yang lalu saya cari di rumah, tapi belum ketemu, nanti akan saya cari lagi.

Membaca Mahabarata, membantu saya menjadi lebih imajinatif, sekaligus belajar arif. Imajinatif karena Mahabarata adalah mahakarya sastra terbaik menurut saya. Ramayana? Itupun mahakarya, Cuma saya lebih menyukai mahabarata karena heroisme dalam ceritanya, Ramayana terlalu romantis dan erotis. Bisa jadi mahabarata adalah karya sastra pertama yang saya baca dan belum selesai membacanya. Karena cerita mahabarata yang begitu panjang dan lebar, mungkin hanya garis besarnya saja yang hafal dan pahami. Masing-masing tokoh ternyata punya hidup dan cerita sendiri, punya dimensinya sendiri. Dan tokoh dalah kisah itu amat sangat banyak, sampai pusing saya.

Membaca mahabarata membuat saya suka sastra. Dan bagi saya itulah standar sastra yang baik. Dalam kehidupan saya, mahabarata mengajari saya tentang darma, yang tiada henti-hentinya. Bahwa dewi amba di-darma-kan menjadi orang yang membunuh resi bhisma, meski mati darmanya menitis pada raga srikandi, dan srikandi menyelesaikan darma dewi amba dengan membunuh resi bhisma dalam perang baratayudha. Dalam mahabarata segala baik dan jahat diperlihatkan dengan relativitasnya. Karna dan bhisma memang mengabdi pada Kurawa, musuh Pandawa, namun mereka adalah contoh sikap patriot, ksatria sejati. Dan Yudhistira seorang sulung pandawa bisa terjebak menjudikan istrinya sendiri, sehingga hilang harga diri perempuan yang membuat Pandawa tersisih ke hutan. Ironis. Lengkap.

Sampai sekarang, saya selalu berminat ngobrol tentang wayang. Sayangnya, tidak banyak yang bisa diajak ngobrol tentang kisah-kisah wayang. Saya selalu mencari tahu serpihan-serpihan kisah wayang. Siapa Antareja dan Antasena? Siapa Wisanggeni? Bambang Doemantri dan Sukasrana? Akh… kisah-kisah pewayangan sangat memikat. Oia, saya kok melupakan keluarga Karang Tumaritis. Karya gemilang sunan Gunung Jati itu juga sangat hebat. Semar, cepot, dawala, nalagareng (dalam wayang golek) adalah tokoh-tokoh yang sangat unik dan juga primadona tersendiri. Mereka bahkan lebih terkenal daripada tokoh wayang asli dari India. Eta mah aselina ti endonesia.

Begitulah Bumi Manusia dan Mahabarata. Dua Mahakarya. Bergelut dan mengisi pikiran saya. Menjalin inspirasi. Terus menerus….

 

12 Juni 2008

Leave a Comment

Filed under Lebih Baik Tidak Dibaca