Cerita dari Teras Sanggar: Sindiran Dari, Oleh dan Untuk Penipu!

Kini Pak Surpriatna punya hobi baru, ia suka menyapu halaman depan Sanggar Motekar sambil menguping obrolan anak-anak SMA Pasundan Jatinangor yang sering nongkrong di gerbang masuk sanggar. Di dekat pintu masuk sanggar memang ada warung kecil yang diurus oleh Danny, putra bungsu Aki Ali, sang maestro Kuda Renggong yang mengurusi istal Motekar. Dan warung itu akhir-akhir ini menjadi tempat favorit anak-anak SMA Pasundan sebelum mereka masuk kelas siang. SMA swasta ini memang bertetangga dengan sanggar. Biasanya mereka datang naik motor jauh sebelum bel masuk kelas berbunyi.

Kisah yang hendak saya ceritakan ini adalah yang pertama kali membuat Bapak sadar bahwa meski kehadiran mereka berpotensi membuat sanggar terlihat “nakal”, namun mereka memberi pesan lain. Pak Supriatna yang merupakan penulis sastra, mencerna kehadiran mereka sebagai inspirasi.

Suatu saat Bapak sedang bersih-bersih halaman Sanggar, ia melihat seorang anak tengah menulis di secarik kertas. Seorang lainnya memperhatikan sambil membantu merangkaikan kata. Anak-anak yang lain cuek bebek menikmati rokok diatas motor: pose ini layak dicatat dalam sejarah sebagai pose penanda zaman kiwari. Zeitgeist.

Bapak menghampiri mereka sambil sebisa mungkin tidak menginterupsi mereka. Lalu Bapak bertanya dalam bahasa Sunda,

“Keur naon, euy?”[1], tanya Pak Supriatna.

“Ieu Pa, nuju ngadamel serat”[2], jawab si anak yang menulis surat.

“Surat naon, euy?”[3], selidik Bapak.

“Ieu Pa, surat ijin kanggo abdi, Pa”[4], jawab si Anak di samping si penulis surat.

“Eh, surat ijin mah kuduna ge dijieun ku orang tua meureun”[5], ujar Bapak mencoba tidak menggunakan nada teguran.

“Ah  dijiga-jiga weh, Pa”[6], tukas si penulis surat.

“Muhun, Pa, da sae seratana si ieu mah”[7], tegas si anak yang hendak bolos.

“Cing mana? Oh enya euy, alus geuning meni jiga”[8], tanya Bapak sambil memperhatikan tulisan surat palsu mereka.

Tiba-tiba salah seorang anak nongkrong di belakang mereka nyeletuk memberi komentar.

“Tah kieu, Pa, diajar ti ayeuna meh ke mun jadi anggota DPR lancar nipuna.”[9]

Pernyataan anak itu tidak dilontarkan dengan nada kencang, santai saja. Sambil lalu. Anak itu tidak sadar bahwa ucapannya mengagetkan Pak Supriatna. Ini saya rasakan karena setelah itu dialog antara Bapak dan anak-anak itu tidak lagi diceritakan pada saya. Berarti Bapak tidak menganggap dialog lanjutannya sepenting sebelumnya. Kemudian Bapak langsung mengajak saya membahas makna celetukan si anak itu.

“Dari wajahnya Bapak yakin anak itu cerdas. Dia bisa menghubungkan apa yang terjadi di pusat kekuasaan negara ini dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Dan yang paling penting dia jujur, bicaranya ringan dan cuek” analisa Bapak.

Buat saya dan Bapak, kejadian itu menampilkan contoh penting bagi pemahaman kami mengenai bagaimana isu-isu nasional hadir dalam keseharian anak muda. Bagaimana “DPR” bisa dengan mudah diartikan sebagai peluang bagi permainan curang?

Jika ini memang benar-benar cita-cita si anak, maka lihat bagaimana bahayanya masa depan bangsa Indonesia. Namun kami juga yakin anak itu sedang bercanda. Candaan khas orang Sunda adalah sisindiran, jadi ungkapan anak itu merupakan satir yang ingin ia sampaikan. Canda anak itu mengandung keseriusan tersendiri, mengingatkan kita pada citra-citra di media massa tentang DPR yang harus diakui bukan lagi suatu lembaga terhormat, tapi kumpulan penipu. Tapi jika ini sebuah satir, toh mereka saat itu tengah melakukan penipuan dengan entengnya di depan seorang kakek pemilik sebuah sanggar seni. Paradoks.

Bapak tidak memarahi mereka apalagi mengusir mereka. Keluarga sanggar tidak suka cara menegur yang represif, jika mungkin malah kita ingin mereka masuk lebih dalam ke sanggar dan ikut latihan silat atau karawitan. Tapi pelan-pelan. Dan tampaknya Bapak malah seperti punya laboratorium baru, jadi ia saat ini seperti tengah melakukan penelitian etnografi. Banyak hal seru yang ia ceritakan pada saya, yang seringkali datang ke sanggar untuk menemaninya merunut dan menganalisa hasil amatannya terhadap keseharian orang-orang di sanggar dan sekitarnya.

“Kadang Bapak sengaja pura-pura menyapu dekat mereka, sebetulnya Bapak ingin mendengar percakapan mereka”, kisah Bapak.


[1] Lagi apa, nih?

[2] Ini Pak sedang menulis surat

[3] Surat apa, nih?

[4] Ini Pak, surat ijin buat saya, Pak

[5] Eh, surat ijin harusnya dibuat oleh orang tua, kali

[6] Ah, dimirip-miripkan saja, Pak

[7] Iya, Pak, soalnya anak ini tulisannya bagus

[8] Coba mana? Oh iya, bagus seperti betulan

[9] Nah begini, Pak, belajar dari sekarang biar nanti kalau jadi anggota DPR lancar menipunya

Leave a Comment

Filed under Kultur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s