LAGU NASIONAL; UNTUK APA ITU SEMUA?

Api Kemerdekaan, Bagimu Negri, Bangun Pemudi Pemuda, Bendera Merah Putih, Berkibarlah Benderaku, Bhinneka Tunggal Ika, Dari Sabang Sampai Merauke, Garuda Pancasila, Halo-Halo Bandung, Hari Merdeka, Ibu Kita Kartini, Indonesia Pusaka, Indonesia Raya, Indonesia Tetap Merdeka, Maju Tak Gentar, Rayuan Pulau Kelapa, Mars Bambu Runcing, Mars Harapan Bangsa, Mars Pancasila, Satu Nusa Satu Bangsa, Syukur, Tanah Airku, Teguh Kukuh Berlapis Baja,

Untuk apa itu semua?

Keresahan ini, berawal ketika saya menyaksikan Mukti-Mukti di Fakultas Sastra Unpad. Saya sangat ingin menyaksikannya lagi, Mukti-Mukti mendendangkan Rayuan Pulau Kelapa dengan begitu syahdu, badan saya bergetar seiring dawai kecapi cina yang dimainkan dengan begitu cermat oleh Siska, salah satu personil yang mengiringi Mukti bernyanyi. Dan senar yang bergetar itu, membawa Rayuan Pulau Kelapa kedalam sanubari saya. Rayuan Pulau Kelapa, lagu yang begitu indah dan damai, sebuah tembang dengan kategori “Lagu Nasional”. Dan setelah malam itu, banyak pertanyaan muncul dalam benak saya, tentang Rayuan Pulau Kelapa dan lagu nasional lainnya.

Sekarang menjadi suatu rutinitas, ketika mata belum terpejam sampai sepertiga malam, saya sempatkan mencari channel tv yang mau tutup tayang. Di Trans7 saya khusyuk menyimak Rayuan Pulau Kelapa, di Trans tv lagu Tanah Airku menemani pencarian kantuk saya. Namun, semakin saya menikmati lagu-lagu merdu tersebut, semakin saya banyak bertanya. Untuk apa lagu-lagu nasional diciptakan? Untuk apa lagu-lagu nasional diajarkan? Untuk apa lagu nasional untuk kita semua?

Saya akhirnya sering menanyakan pertanyaan itu pada orang-orang yang saya temui. Hampir semua orang yang saya tanya menyampaikan jawaban yang bersifat antipati. Hampir semuanya menyangkal sisi penting keberadaan lagu-lagu nasional. Hampir semuanya bilang lagu-lagu nasional tidak ada maknanya bagi mereka. Betulkah?

Saya mengingat-ingat, saat-saat saya diajarkan lagu-lagu nasional. Saya suka pelajaran kesenian, karena diantara menggambar yang merupakan hobi saya, saya juga diajarkan menyanyi, dengan lagu-lagu nasional sebagai menunya. Saya tanyakan pada ibu saya yang guru SD, apakah lagu nasional masih diajarkan, jawabannya tentu saja masih diajarkan. Wajib malahan. Saya ingat-ingat, guru saya tidak pernah menceritakan lagu-lagu nasional itu untuk apa, dan mengapa tercipta. Dan saya tanya ke Pak Supriatna yang juga mantan guru SD, apakah murid diceritakan tentang esensi lagu-lagu nasional yang diajarkan? Jawabannya, gurunya sendiripun tidak tahu sisi historis lagu-lagu nasional.

Di kepala saya, yang sedang belajar menjadi seorang fiksioner, ada banyak sekali reka adegan. Seorang guru tengah mengajarkan Maju Tak Gentar kepada murid di kelas. Guru itu menuliskan not balok dan liriknya, kemudian mengajarkan nada-nada sebuah lagu nasional. Murid-murid begitu semangat, karena selain ritme lagu yang menggugah semangat, pelajaran kesenian dengan materi belajar bernyanyi lagu nasional merupakan pelepas stress setelah pusing menghitung dan capek mencatat. Murid-murid juga diajarkan lagu Rayuan Pulau Kelapa yang amat syahdu, meski agak acak-acakan karena lagu ini memang agak sulit, namun anak-anak tetap senang riang gembira. Murid-murid pulang, mereka bergandengan tangan sambil menyanyikan lagu yang barusan diajarkan.

Segerombolan mendendangkan Rayuan Pulau Kelapa:

Tanah airku Indonesia,Negeri elok amat kucinta, Tanah tumpah darahku yang mulya, Yang kupuja s’panjang masa, Tanah airku aman dan makmur, Pulau kelapa yang amat subur, Pulau melati pujaan bangsa sejak dulu kala, Melambai-lambai, nyiur di pantai, Berbisik-bisik, Raja K’lana, Memuja pulau, yang indah permai, Tanah airku… Indonesia.

Namun, terlalu banyak anak-anak Indonesia yang bukan si Bolang. Seperti anak-anak dalam imaji saya yang pulang sekolah itu, meski Rayuan Pulau Kelapa dari mulut mereka, namun pabrik-pabrik, toko-toko, sawah yang terhimpit perumahan, sampah berserakan, kendaraan balap-balapan, asap knalpot, preman di perempatan, selokan hitam, dan diri anak-anak itu sendiri tak mampu merepresentasikan Rayuan Pulau Kelapa. Namun, anak-anak itu tetap menyanyikannya, selain menyanyikan lagu-lagu D’Massive, Ungu, Dewa, Kangen Band. Rayuan Pulau Kelapa dihafal karena gurunya mengharuskan mereka menghafalkannya, karena akan dites di ujian akhir semester misalnya. Sore harinya mereka janjian main bola. Mereka bermain disamping lapangan futsal, padahal lapangan futsal itu dulu adalah lapangan tempat main mereka. Seorang anak berujar dengan kesal bahwa hak mereka dirampas, dan berinisiatif melempari lapangan futsal itu sambil menyanyikan Maju Tak Gentar. Yang lain mengikutinya, sorak sorai Maju Tak Gentar membahana. Sampai ada suara sesuatu yang pecah, disertai teriakan satpam dari dalam area lapangan futsal, anak-anak itu kocar-kacir berlarian, sambil tetap menyanyikan Maju Tak Gentar.

Tentu saja yang diatas itu hanyalah fiksi dalam imaji saya. Namun semuanya mungkin terjadi, saya yakin itu. Lagu-lagu nasional itu, yang diajarkan di kelas-kelas sekolah dasar sampai menengah atas, sifatnya ahistoris. Lagu-lagu itu diajarkan tanpa penjelasan historis sehingga setiap anak bebas menginterpretasikannya. Ketika anak-anak tidak diajarkan untuk apa Maju Tak Gentar diciptakan, mereka menjadi bebas menggunakan lagu-lagu itu sesuai suasana yang menjadi realitas mereka. Lagu-lagu nasional seperti Maju Tak Gentar, Bangun Pemudi Pemuda, dan Halo-Halo Bandung memiliki nada yang menggugah semangat, nada patriotik! Cocok untuk menjadi soundtrack protes mereka terhadap realita. Dan jika protes itu bersifat destruktif? Karena bagi mereka destruktif itu adalah sesuatu yang patriotik? Toh setiap manusia selalu mencari soundtrack bagi hidup mereka.

Bagi anak-anak di Batu Karas, di pantai-pantai indah di Bali, Lombok, atau dimanapun, Rayuan Pulau Kelapa akan menjadi lagu yang sangat pas untuk kondisi mereka. Tapi mari bayangkan seorang anak di tengah hiruk pikuk kota Jakarta, Bandung, Surabaya, bahkan kota pinggiran seperti Jatinangor atau Ujung Berung, ketika lagu itu harus mereka hafal, namun apakah mereka tau bagaimana “nyiur melambai”? Apakah mereka punya bayangan tentang “pulau kelapa yang amat subur”? Acara Si Bolang memang memperlihatkan fenomena itu, namun toh anak-anak itu takkan mampu untuk menembus layar 14 inci untuk bisa main-main pasir di pantai bareng si Bolang… Di kota, seperti kata Galih dalam lagunya ‘Sore’, burung gereja pun bertengger di pucuk antena…

Lagu-lagu nasional itu, yang harus dihafal di sekolah, menjadi hampa dan kehilangan ruhnya. Lalu untuk apa itu semua? Karena kita semua mungkin mengamininya – kehampaan dalam lagu-lagu itu – karena ketidakpuasan kita terhadap negeri ini yang selalu menjadikan lagu-lagu nasional sebagai alat propaganda. Di masa Soeharto, lagu-lagu nasional ini menjadi kidung nina bobo, alat untuk membuat rakyat luput menyadari kebobrokan pemimpinnya. Namun di masa sebelumnya, lagu-lagu nasional ini mungkin menjadi dopping pejuang Indonesia melawan gempuran sekutu. Entahlah, Saya sendiri masih mencari-cari jawabannya.

Sebagai anak yang lahir di sisi Situ Lengkong Panjalu, sempat tinggal di Pangandaran, dan kini menetap di Cirebon, saya sangat menghayati Rayuan Pulau Kelapa. Namun sebagai pemuda yang besar di Jatinangor dan suka main di Bandung, saya juga turut berempati pada yang tidak mampu menghayati Rayuan Pulau Kelapa…

9 Juli 2008

(Ulang tahun Mama saya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s