Versi bahasa Sunda cerpen ini pernah dimuat di Majalah Mangle dengan judul “Lalakon Hujan”
Langit tak tampak. Biru tertutupi kelabu. Namun, cahaya matahari sore berkelit memasuki celah-celah kecil yang ditinggalkan awan. Cahaya-cahaya itu seperti sinar laser, memanjang dari langit menembus awan, menusuk bumi. Dari kejauhan terdengar gemuruh geledek. Disini, rintik gerimis sesekali menyentuh kulit wajahku.
Rintik gerimis tak menyakitkanku. Justru memancing ingatan-ingatanku. Tentang rintik-rintik gerimis, juga hujan dan petirnya yang dulu jadi sahabatku. Maka, aku justru menantikan yang lebih dahsyat dari sekedar rintik gerimis ini. Hujan, datanglah. Sirami aku sebisa kamu. Maka, hujan pun turun, deras dan semakin deras. Aku memacu sepeda motorku santai, karena ingatan-ingatan ini muncul lebih deras daripada hujan.
Hujan-hujan ini dulu sangat aku tunggu. Aku menyukai hujan seperti kerbau menyukai kubangan lumpur, seperti Romeo menyukai Juliet. Bukan hujan saja, aku menyukai air sebetulnya. Maka, ingatan-ingatan tentang aku dan air menyatukanku dengan hujan yang semakin lama semakin deras ini. Maka, aku biarkan tubuhku kuyup, seperti belasan tahun yang lalu, aku kuyup sambil mengejar-ngejar bola.
***
Ayahku melihatku memperhatikan teman-temanku bermain bola di pekarangan rumahku. Pekaranganku memang luas, setengah lapangan bola. Namun itu bukan punya keluargaku, kebetulan saja pekarangan rumahku menyatu dengan pekarangan SD. Bagi anak-anak kampung, bermain di pekarangan itu berarti bermain di pekaranganku, arti yang lain: bermain denganku. Maka, tak lengkap jika bermain disini tanpa aku. Termasuk juga ketika hujan.
Ayahku melarangku hujan-hujanan. Aku pernah sekali bermain bola sambil hujan-hujanan, sebelum ayahku datang dari kerjanya. Aku tahu aku akan dimarahi jika kepergok, dan benar saja, ayah pulang pukul empat, tepat waktu, dan itu adalah waktu paling asyik untuk bermain bola. Aku dihukum malam harinya, bukan hukuman berupa pukulan di pantat atau dipenjara dalam kamar mandi. Hukuman itu berupa belajar matematika. Bagiku itulah hukuman paling mengerikan yang pernah aku terima. Aku amat benci matematika, ayah tau itu. Dan setiap kali aku mendapat hukuman dari ayah, belajar matematika tidak akan kurang sampai jam 1 dini hari. Aku seringkali menangis ketika dapat hukuman itu, benar-benar menangis, tangisan atas siksaan yang luar biasa. Tangisan yang pasti terbawa sampai tidur. Menjadi bahan nyelindur.
Dan sore itu, hujan turun tidak terlalu deras. Padang rumput di pekarangan pasti tergenang air setengahnya. Dan itu saat istimewa untuk bermain bola, ketika melakukan sliding tackle tak akan menyakiti kulit kita. Justru jatuh terjerembab menjadi sensasi yang tiada duanya. Dan teman-temanku itu tengah menikmatinya. Aku? Hanya duduk diatas sepeda motor ayah yang diparkir di teras, memperhatikan mereka dengan seksama. Ikut tertawa jika teman-temanku menertawakam salah satu dari mereka yang terpeleset ketika menendang bola. Bersamaan dengan tawa, hatiku meringis. Aku ingin hujan-hujanan seperti mereka.
Ayah datang membawa pisang goreng buatan ibu. Adikku kemudian menyusul menyajikan teh manis hangat. Aku menyambut pisang goreng dan teh hangat. Memang hangat, enak. Namun aku tidak butuh hangat. Aku justru ingin merasa kedinginan, ingin merasakan kulit-kulit jariku keriput saking kedinginan, namun sebetulnya jiwaku hangat, oleh rasa riang main bola bersama teman-teman. Aku tidak butuh pisang goreng hangat, padahal hatiku beku, karena tak kutemukan rasa riang didalamnya.
Aku menyeruput teh manis hangat dengan malas-malasan.
Ayahku mungkin menatapiku dari belakang. Aku merasakan tatapannya menembus punggungku. Akupun sebetulnya memunculkan gestur-gestur kegerahan. Gerah atas keadaanku ini yang membosankan. Gestur-gestur cari perhatian. “Kamu pengen hujan-hujanan?” ayahku bertanya. Aku merasa bingung menjawab apa, maka aku diam saja. Aku biarkan ayah merasa tersiksa melihat anaknya tidak bahagia, ayah mana yang tidak ingin anaknya bahagia.
“Sana, pergi… tapi ganti dulu pake baju kotor”.
Tuhan! Aku bengong mendengarkannya. Namun, aku beringsut sebelum ayah berubah pikiran. Berlari menyambar kaos kotor dari ember cucian, berlari telanjang kaki menembus hujan, yang tetesnya kurasakan begitu hangat menyentuh kulitku. Teman-teman menyambutku jauh lebih hangat dari hujan.
Aku terjatuh tujuh kali, aku membuat gol tiga kali, aku tertawa berjuta-juta kali…
Malam harinya aku khawatir kena hukuman. Ternyata tidak. Aku dibiarkan belajar sendirian. Bahkan sejak itu aku tidak pernah dilarang hujan-hujanan.
Dua hari kemudian aku baru tahu alasan ayah melepaskanku pada hujan. Di dua hari kemudian itu ayah mengajaku keluar saat hujan. “Aku hujan-hujanan bersama ayah!” Seruku dalam hati. Aku dibekalinya ember, ayah sendiri membawa jala dan sairan. Aku diajaknya ke empang kami. Sebuah empang kecil yang ditanami ikan mas, gurame dan lele. Ayah, bergegas sampai setengah berlari, cepat-cepatan dengan gemuruh petir. Aku sebetulnya ingin lebih bergegas lagi. Adrenalin yang meluap-luap.
Sampai di empang, aku kaget melihat air empang yang membandang. Aku melihat air empang sudah menyatu dengan air dari sekelilingnya. Saluran air yang biasa mengalirkan arus ke empang kini dialiri balik oleh empang. Dan ikan-ikan seperti diberikan kebebasan pilihan berenang saat itu. Ikan-ikan menari-nari di kubangan disekeliling empang, bersembunyi dibalik rumput-rumput, berloncatan diantara akar-akar pohon, melarikan diri ke saluran air.
Tanpa dikomandoi aku menangkap ikan-ikan itu, memasukannya ke ember-ember yang aku tenteng. Aku cukup cekatan menangkap ikan sejak aku sering bolos sekolah agama sore untuk berenang dan mencari ikan di sungai desa. Mungkin ayah tahu itu, makanya aku diajaknya kemari. Ayah langsung membenahi tanggul empang yang bocor disana-sini. Menyumbat sebisa mungkin saluran-saluran air menuju empang. Aku sibuk setengah kegirangan, sibuk menangkapi ikan, dan girang karena banyak alasan.
Ayah berlari menyusuri saluran air. 30 meter dari empang, saluran setinggi setengah lutut ayah itu ia sumbat dengan jala. Memerangkap ikan-ikan yang euforia. Aku tetap pada inisiatifku, mengambili ikan sebisaku. Kemudian ayah juga melakukan pekerjaanku, menangkapi ikan menggunakan sairan. Ember-ember kami penuh sesak oleh ikan. Ayah menyuruhku mengambil ember tambahan. Sampai menjelang magrib kami masih memasang jala di sekeliling bibir empang.
Malam harinya, ibu menggoreng lele, ikan mas dan gurame untuk makan malam. Beres makan, ayah memberiku obat. “Biar gak demam”, jelas ayah. Aku tidur duluan karena obat yang diberikan ayah. Lelap. Memimpikan keriangan sore tadi. Keriangan yang terekam abadi dalam ingatanku.
Dan setiap hujan, ayah sudah tidak lagi khawatir tentang empangnya. Ayah bisa menepi di perjalanan pulang bila turun hujan, tanpa harus khawatir jika air empang membandang lagi. Aku mengambil alih tugasnya.
***
Lamunanku deras seperti hujan kali ini. Motorku ini sepertinya sudah menggigil Namun aku masih terhangati romantisme masa kecilku. Sampai pada salah satu perempatan di jalan terpanjang Kota Bandung ini, tiba-tiba aku merasakan jalan motorku melambat. Dan kakiku yang aku tumpangkan diatas step kanan kiri motorku merasakan aliran air. Oh tuhan, air ternyata telah menggenangi jalanan ini. Aku perhatikan dengan seksama ke depan, jalanan dipenuhi mobil-mobil yang bergerak melambat. Dan lebih jauh disana, mobil-mobil sudah tidak bergerak, motor-motor dipapah yang punyanya. Klakson-klakson nyaring memenuhi gendang telinga. Keadaan ini menghentikan segala romantika.
Motorku sudah sulit melaju. Terjebak dalam jalanan sungai atau sungai jalanan. Airnya pekat dan agak bau. Beda dengan air yang mengaliri empang ayah yang jernih sehingga ikan-ikan akan tetap terlihat kemanapun dia pergi. Ban motorku sudah sulit bergerak karena tersangkuti sampah plastik, kain, lumpur dan segala sampah. Sampah botol minuman instan mengapung disana-sini. Kini, bunyi deras hujan bersahutan dengan caci maki pengguna jalan. Gelegar petir beradu kencang dengan klakson kendaraan.
Aku masih mengikuti arah iring-iringan kemacetan. Air sudah sampai pada lututku. Tentu saja aku sudah seperti yang lainnya, memapah motor. Beberapa kendaraan memutuskan berbalik arah, itulah yang menyebabkan kemacetan. Jalanan jadi kacau balau. Hatiku sedari tadi hangat oleh kisah masa kecilku, kini menjadi panas karena keadaan yang tak menentu.
Aku berada di perempatan. Terjebak dalam sungai jalanan atau jalanan sungai. Kini deras hujan sudah tak terdengar, kalah telak dengan umpatan orang-orang. Meski tak lagi menarik perhatian, hujan bertambah deras dan begitu pula arus di kakiku. Aku makin sulit menggerakan motorku. Aku putuskan untuk membelokan motorku, mencari tempat parkir. Sulit, aku tak mendapat ruang untuk membelok. Tuhan, sulit sekali ini keadaan.
Aku lihat ke sebelah selatan, air disana tampak lebih tinggi. Itu daerah memang lebih rendah dari tempatku berdiri. Kendaraan-kendaraan disana sudah tak ada yang bergerak, semuanya mematung. Dan tidak ada orang-orang disana. Kemanakah mereka? Lalu aku lihat lebih seksama, dalam deras hujan aku lihat orang-orang bergerak disisi-sisi jalan mencari daerah yang lebih tinggi. Sementara motor-motornya, mobil-mobilnya mereka tinggalkan.
Beberapa saat kemudian, rombongan orang semakin ramai. Bergerak kepayahan melawan arus yang semakin menggerus. Seratus meter di sebelah selatan sana air telah hampir mencapai selangkangan. Orang-orang itu tidak dengan tangan kosong, ibu-ibu menggendong anak-anaknya, ayah-ayah membopong tv, kulkas, kasur dan apa saja. Mereka berlomba-lomba menggapai ketinggian. Menyelamatkan nyawa mereka dan nyawa anak-anaknya. Rumah-rumah mereka mereka biarkan terendam. Di kejauhan sana, jalanan sudah seperti sungai betulan.
Aku masih saja berdiri. Aku sungguh benci keadaan ini. Aku jadi ingat bahwa di desaku sederas apapun hujan takkan membuat jalanan seperti sungai. Sederas apapun aliran air takkan pernah bersampah seperti disini. Dan sederas apapun hujan takkan membuat ayah dan aku menyelamatkan ibu dan adikku. Hujan di desaku bahkan merupakan sumber keriangan yang tiada duanya.
Aku masih saja berdiam diri. Di sebelah selatan sana, seorang anak kecil mengambang diatas ban ditarik oleh ayahnya. Disampingnya sang ibu menggendong sang adik yang meraung-raung kedinginan. Aku masih saja berdiri, mengingat-ingat di desaku, tak akan mungkin terjadi yang seperti itu.
Aku masih saja berdiam diri. Beromantika bersama hujan, berharap di depan mataku ini hanyalah ilusi.
Jatinangor, 15 November 2006