Kencan Barokah: Mengajar di Sindangsuka, Just Do!

Sudah cukup lama ikan asin dari Palu yang dibawa Ibunda Xora tersimpan di kulkas milik seorang teman yang dititipkan di kamar Xora, kekasih saya. Setelah dibagi ke sana ke mari tujuan akhir ikan asin itu adalah keluarga Om Ikin dan Tante Qony (disebut tante Qonceu oleh Xora) di desa Sindangsuka, Cibatu, Garut. Sejak Ikan Asin itu datang dibawa Ibunda Xora dari Palu, Xora sudah mengajak saya  melancong ke sana untuk bersilaturahmi ke keluarga yang menjadi host family ketika Xora KKN setahun yang lalu.

Akhir bulan November akhirnya saya dan Xora ke Sindang Suka. Seperti biasa di atas motor kami bernyanyi. Lagu-lagu The Beatles menjadi favorit kami diselangi lagu-lagu pop Indonesia tahun 80an seperti lagu-lagu Broery Marantika. Tidak lupa juga lagu Fireflies dari Risky Summerbee and The Honeythief dan Fallin in Love at The Coffeeshop dari Landon Pigg, kedua lagu ini punya arti spesial buat kami, suatu chemistry yang hangat selalu meyelubungi saya ketika menyanyikan kedua lagu itu. Oh iya, saat itu juga sedang musim rambutan. Xora suka sekali mengudap rambutan di atas motor, saya juga suka minta disuapin. Mengunyah rambutan yang asam manis membantu mata saya tetap waspada sambil menyetir.

Hanya lima puluh menit lama perjalanan dari Jatinangor ke Sindangsuka. Sampai Nagreg pemandangan memang tidak menarik, tapi selepas melewati pertigaan Garut pemandangan berubah jadi segar untuk mata dan hati. Rimbun pepohonan dan hijau sawah selaras dengan udara yang sejuk. Rasanya sudah sampai tujuan jika sudah sampai di jalur Limbangan.

Sampai di Sindangsuka, Tante Qonceu dan Om Ikin menyambut dengan terkejut. Kami memang tak memberi kabar kedatangan kami, biar jadi kejutan, dan kami berhasil. Tetangga terdekat juga ikut menghampiri dan meminta kami bertamu ke rumah mereka. Tradisi nganjang (bertamu) ini sangat khas budaya desa yang membuat suasana kekeluargaan begitu kental. Tante Qonceu langsung sibuk di dapur, mendadak memasak tanpa bisa kami cegah. Tampaknya kami akan menikmati ikan asin yang berkualitas tinggi itu di rumah ini. Langsung ngiler juga. Sementara di ruang keluarga kami ditemani oleh salah satu tetangga Tante Qonceu, yang juga kakak iparnya, Pak Ayi. Ini kali pertama saya berbincang dengan Pak Ayi setelah sebelumnya banyak diceritakan oleh Xora. Pak Ayi oleh Xora dijuluki “yang punya Sindangsuka”, karena pengaruh ketokohannya yang besar di desa itu.

“Saya tidak mau jadi pejabat, lebih enak jadi petani saja”, jawab Pak Ayi ketika kami tanya mengapa tidak mencalonkan diri jadi kepala desa.

Pak Ayi dengan cepat menjadi idola saya juga. Setelah bercerita mengenai kondisi desa yang kurang air untuk pertanian, ia lalu menceritakan madrasah yang ia dirikan sendiri. Madrasah Al Hidayah namanya, itu seperti sekolah agama sore yang dulu saya ikuti waktu kecil. Pulang dari SD dulu saya ikut sekolah agama. Hanya saja madrasah Pak Ayi ini lebih informal, tidak berijazah seperti madrasah yang dulu saya ikuti. Di madrasah ini Pak Ayi juga memberi materi soft skill, ia mengajari anak-anak berpresentasi. Tampak ada cercah harapan dalam mata Pak Ayi, sebentuk cita-cita akan masa depan generasi muda Sindangsuka yang lebih baik hadir dalam sorot matanya. Saya dan Xora saling berpandangan, tampaknya ada ide di kepala kami.

“Mengajar di madrasah Pak Ayi, Yuk!” ajak Xora.

“Yukkk!” serta merta saya setuju.

Di kepala kami telah muncul adegan-adegan menyenangkan mengajar di madrasah Pak Ayi. Kami berjanji pada Pak Ayi untuk datang lagi minggu depan, untuk mengajar di sana. Mengajar apa? Kami belum tahu pasti, kami hanya tahu pasti bahwa ini akan sangat menyenangkan. Just do!

Aroma ikan asin menyerbu hidung kami, perut dan lidah kami langsung bereaksi, lapar seketika eksis. Tante Qonceu datang membawa tak cuma bersama ikan asin, tapi ikan mas goreng yang empuk dan sambal terasi yang manis pedas plus lalapan, nasi mengepul dari rice cooker. Kami makan dengan sangat lahap. Kolaborasi rasa ikan mas goreng, ikan asin, sambal terasi, lalap terong, dan nasi dengan kualitas baik begitu sempurna di lidah, nikmat.

Bersambung.

 

PS: ditulis untuk Ixora Tri Devi yang sedang di New Delhi dan Keluarga Sindangsuka yang pasti merindukan kedatangan saya dan Xora (amin :D )

PSS: foto-fotonya menyusul karena kameranya dibawa Ixora ke India :D

Leave a Comment

Filed under artikel lepas

Morning Glory Coffee: Bau

Ini bukan apa-apa, hanya obrolan anak kosan sambil menunggu saatnya beranjak ke urusan masing-masing. Namun, kadang acara ini berlangsung kelamaan, hingga lewat tengah hari.

7 Februari 2012

Persoalan tubuh memang tiada habisnya untuk dibahas. Kali ini tiba-tiba obrolan mengalir ke persoalan bebauan. Ada persoalan eksistensial: bau (atau aroma atau wangi) bukankah salah satu cara kita menunjukan kehadiran kita? Novel Perfume membahas persoalan ini dengan sempurna. Jean-Baptiste Grenouille merasakan ketidakhadiran dirinya dalam masyarakat karena ia tidak memiliki bau tubuh. Dan eksperimen untuk menghasilkan parfum paling mulia membuatnya harus membunuh 24 perempuan dan mengekstraksi wangi tubuh mereka. Hasilnya, sebuah parfum yang tidak saja membuat dirinya “ada”, namun wangi parfum itu menjadikannya manusia paling mulia di muka bumi.

Oh iya, perbincangan mengenai bau ini hadir ketika obrolan menyerempet negeri India. Teman-teman saya tahu kekasih saya tengah ada di sana untuk program kemanusiaan. Dan salah seorang peserta MGC bilang bahwa jangan-jangan nanti kekasih saya pulang berbau bawang. Bau bawang ini analoginya untuk orang India, yang masakannya selalu penuh bawang. Saya sendiri tidak terlalu tahu benar atau tidak. Yang menarik buat saya adalah bagaimana suatu bangsa bisa dihadirkan lewat bebauannya.

Teman saya yang lain menceritakan bahwa bule, orang kulit putih, berbau seperti keju (ia menceritakannya dengan mimik jijik). Dia pernah sebulan bergaul dengan bule dan sehari-hari makan-makanan a la Eropa. Dan ketika ia tidur bersama adiknya, sang adik mengeluh karena bau kakaknya tidak enak, bau keju! Lalu muncul pertanyaan, apakah yang kita makan akan mempengaruhi bau kita?

Tentu jawabannya ya! Tapi saya tidak tahu menjelaskannya seperti apa. Namun, saya menawarkan penjelasan lain. Menurut saya bebauan itu masalah kultur, bukan natur. Apakah bangsa yang hidup di wilayah tropis bau tubuhnya berbeda dengan bangsa subtropis karena dipengaruhi alam? Ya. Namun saya tidak meletakan persoalan bebauan di titik itu.

Bebauan memunculkan stereotip tentang suatu bangsa. Dan terkadang stereotip itu berbunyi miring alias negatif. Orang-orang dari kawasan tertentu diingat karena baunya tidak enak. Lalu ketidak-enakan bau itu menjadikan diri kita seolah lebih baik dari mereka, budaya wangi lebih baik daripada budaya bau tidak wangi.

Penilaian ini memunculkan masalah budaya. Wewangian tidaklah semata-mata diproduksi oleh tubuh kita, dan kita tak pernah memasrahkan bebauan tubuh kita pada tubuh kita sendiri. Budaya tertentu pasti punya strategi bebauan tubuh sendiri, dan karena strategi bebauan yang berbeda itu maka kita bisa suka dan bisa tidak. Jika bau tubuh alami suatu bangsa adalah bau keju, misalnya, bukankah bangsa itu juga suka keju? Maka bebauan itu dalam budayanya tidak punya masalah. Begitu juga dengan bau bawang, jahe, rempah-rempah, kelapa, dan lain-lain.

Masalahnya, konstruksi wangi tubuh kini telah diseragamkan. Kebudayaan kita saat ini tidak mengijinkan tubuh telanjang tanpa wewangian. Sulit bagi saya, dan juga peserta MGC lain untuk percaya diri ketika lupa memakai deodoran. Artinya, kebudayaan kita tidak mentolerir bau tidak sedap dari ketek. Begitu juga dengan mandi, sulit bagi kita untuk merasa telah mandi tanpa menyabuni tubuh kita. Tubuh manusia seperti dimutilasi untuk urusan menjadi wangi: pasta gigi untuk mulut dan gigi, deodoran untuk ketek, shampo untuk rambut, parfum untuk tengkuk, lotion untuk tangan dan kaki, dan lain-lain.

Dampaknya, kontes tubuh manusia ketika diletakan pada persoalan bau alamiah maka akan menghasilkan stereotip. Namun jika dibedakan dari parfum (baca: merk) apa yang dipakai maka akan menghasilkan kontes gaya hidup. Bisa disimpulkan bahwa apresiasi terhadap kehadiran seseorang adalah dari wangi tubuh yang berparfum, hanya itu. Yang hadir dengan wangi alamiahnya mungkin kehadirannya dianggap mengganggu. Jean-Baptiste Grenouille adalah pengecualian, kealpaan eksistensinya karena tubuhnya tak berbau dan ia harus menjadi pembunuh untuk membuat parfum paling mulia, saking mulianya ia tak lagi dilihat sebagai manusia, namun sesuatu yang suci. Tapi hey! Grenouille mendapatkan parfum itu dari ekstraksi wewangian alami kulit manusia: perempuan!

2 Comments

Filed under Kultur

Romantika Hujan

Versi bahasa Sunda cerpen ini pernah dimuat di Majalah Mangle dengan judul “Lalakon Hujan”

Langit tak tampak. Biru tertutupi kelabu. Namun, cahaya matahari sore berkelit memasuki celah-celah kecil yang ditinggalkan awan. Cahaya-cahaya itu seperti sinar laser, memanjang dari langit menembus awan, menusuk bumi. Dari kejauhan terdengar gemuruh geledek. Disini, rintik gerimis sesekali menyentuh kulit wajahku.

Rintik gerimis tak menyakitkanku. Justru memancing ingatan-ingatanku. Tentang rintik-rintik gerimis, juga hujan dan petirnya yang dulu jadi sahabatku. Maka, aku justru menantikan yang lebih dahsyat dari sekedar rintik gerimis ini. Hujan, datanglah. Sirami aku sebisa kamu. Maka, hujan pun turun, deras dan semakin deras. Aku memacu sepeda motorku santai, karena ingatan-ingatan ini muncul lebih deras daripada hujan.

Hujan-hujan ini dulu sangat aku tunggu. Aku menyukai hujan seperti kerbau menyukai kubangan lumpur, seperti Romeo menyukai Juliet. Bukan hujan saja, aku menyukai air sebetulnya. Maka, ingatan-ingatan tentang aku dan air menyatukanku dengan hujan yang semakin lama semakin deras ini. Maka, aku biarkan tubuhku kuyup, seperti belasan tahun yang lalu, aku kuyup sambil mengejar-ngejar bola.

***

 Ayahku melihatku memperhatikan teman-temanku bermain bola di pekarangan rumahku. Pekaranganku memang luas, setengah lapangan bola. Namun itu bukan punya keluargaku, kebetulan saja pekarangan rumahku menyatu dengan pekarangan SD. Bagi anak-anak kampung, bermain di pekarangan itu berarti bermain di pekaranganku, arti yang lain: bermain denganku. Maka, tak lengkap jika bermain disini tanpa aku. Termasuk juga ketika hujan.

Ayahku melarangku hujan-hujanan. Aku pernah sekali bermain bola sambil hujan-hujanan, sebelum ayahku datang dari kerjanya. Aku tahu aku akan dimarahi jika kepergok, dan benar saja, ayah pulang pukul empat, tepat waktu, dan itu adalah waktu paling asyik untuk bermain bola. Aku dihukum malam harinya, bukan hukuman berupa pukulan di pantat atau dipenjara dalam kamar mandi. Hukuman itu berupa belajar matematika. Bagiku itulah hukuman paling mengerikan yang pernah aku terima. Aku amat benci matematika, ayah tau itu. Dan setiap kali aku mendapat hukuman dari ayah, belajar matematika tidak akan kurang sampai jam 1 dini hari. Aku seringkali menangis ketika dapat hukuman itu, benar-benar menangis, tangisan atas siksaan yang luar biasa. Tangisan yang pasti terbawa sampai tidur. Menjadi bahan nyelindur.

Dan sore itu, hujan turun tidak terlalu deras. Padang rumput di pekarangan pasti tergenang air setengahnya. Dan itu saat istimewa untuk bermain bola, ketika melakukan sliding tackle tak akan menyakiti kulit kita. Justru jatuh terjerembab menjadi sensasi yang tiada duanya. Dan teman-temanku itu tengah menikmatinya. Aku? Hanya duduk diatas sepeda motor ayah yang diparkir di teras, memperhatikan mereka dengan seksama. Ikut tertawa jika teman-temanku menertawakam salah satu dari mereka yang terpeleset ketika menendang bola. Bersamaan dengan tawa, hatiku meringis. Aku ingin hujan-hujanan seperti mereka.

Ayah datang membawa pisang goreng buatan ibu. Adikku kemudian menyusul menyajikan teh manis hangat. Aku menyambut pisang goreng dan teh hangat. Memang hangat, enak. Namun aku tidak butuh hangat. Aku justru ingin merasa kedinginan, ingin merasakan kulit-kulit jariku keriput saking kedinginan, namun sebetulnya jiwaku hangat, oleh rasa riang main bola bersama teman-teman. Aku tidak butuh pisang goreng hangat, padahal hatiku beku, karena tak kutemukan rasa riang didalamnya.

Aku menyeruput teh manis hangat dengan malas-malasan.

Ayahku mungkin menatapiku dari belakang. Aku merasakan tatapannya menembus punggungku. Akupun sebetulnya memunculkan gestur-gestur kegerahan. Gerah atas keadaanku ini yang membosankan. Gestur-gestur cari perhatian. “Kamu pengen hujan-hujanan?” ayahku bertanya. Aku merasa bingung menjawab apa, maka aku diam saja. Aku biarkan ayah merasa tersiksa melihat anaknya tidak bahagia, ayah mana yang tidak ingin anaknya bahagia.

“Sana, pergi… tapi ganti dulu pake baju kotor”.

Tuhan! Aku bengong mendengarkannya. Namun, aku beringsut sebelum ayah berubah pikiran. Berlari menyambar kaos kotor dari ember cucian, berlari telanjang kaki menembus hujan, yang tetesnya kurasakan begitu hangat menyentuh kulitku. Teman-teman menyambutku jauh lebih hangat dari hujan.

Aku terjatuh tujuh kali, aku membuat gol tiga kali, aku tertawa berjuta-juta kali…

Malam harinya aku khawatir kena hukuman. Ternyata tidak. Aku dibiarkan belajar sendirian. Bahkan sejak itu aku tidak pernah dilarang hujan-hujanan.

Dua hari kemudian aku baru tahu alasan ayah melepaskanku pada hujan. Di dua hari kemudian itu ayah mengajaku keluar saat hujan. “Aku hujan-hujanan bersama ayah!” Seruku dalam hati. Aku dibekalinya ember, ayah sendiri membawa jala dan sairan. Aku diajaknya ke empang kami. Sebuah empang kecil yang ditanami ikan mas, gurame dan lele. Ayah, bergegas sampai setengah berlari, cepat-cepatan dengan gemuruh petir. Aku sebetulnya ingin lebih bergegas lagi. Adrenalin yang meluap-luap.

Sampai di empang, aku kaget melihat air empang yang membandang. Aku melihat air empang sudah menyatu dengan air dari sekelilingnya. Saluran air yang biasa mengalirkan arus ke empang kini dialiri balik oleh empang. Dan ikan-ikan seperti diberikan kebebasan pilihan berenang saat itu. Ikan-ikan menari-nari di kubangan disekeliling empang, bersembunyi dibalik rumput-rumput, berloncatan diantara akar-akar pohon, melarikan diri ke saluran air.

Tanpa dikomandoi aku menangkap ikan-ikan itu, memasukannya ke ember-ember yang aku tenteng. Aku cukup cekatan menangkap ikan sejak aku sering bolos sekolah agama sore untuk berenang dan mencari ikan di sungai desa. Mungkin ayah tahu itu, makanya aku diajaknya kemari. Ayah langsung membenahi tanggul empang yang bocor disana-sini. Menyumbat sebisa mungkin saluran-saluran air menuju empang. Aku sibuk setengah kegirangan, sibuk menangkapi ikan, dan girang karena banyak alasan.

Ayah berlari menyusuri saluran air. 30 meter dari empang, saluran setinggi setengah lutut ayah itu ia sumbat dengan jala. Memerangkap ikan-ikan yang euforia. Aku tetap pada inisiatifku, mengambili ikan sebisaku. Kemudian ayah juga melakukan pekerjaanku, menangkapi ikan menggunakan sairan. Ember-ember kami penuh sesak oleh ikan. Ayah menyuruhku mengambil ember tambahan. Sampai menjelang magrib kami masih memasang jala di sekeliling bibir empang.

Malam harinya, ibu menggoreng lele, ikan mas dan gurame untuk makan malam. Beres makan, ayah memberiku obat. “Biar gak demam”, jelas ayah. Aku tidur duluan karena obat yang diberikan ayah. Lelap. Memimpikan keriangan sore tadi. Keriangan yang terekam abadi dalam ingatanku.

Dan setiap hujan, ayah sudah tidak lagi khawatir tentang empangnya. Ayah bisa menepi di perjalanan pulang bila turun hujan, tanpa harus khawatir jika air empang membandang lagi. Aku mengambil alih tugasnya.

***

Lamunanku deras seperti hujan kali ini. Motorku ini sepertinya sudah menggigil Namun aku masih terhangati romantisme masa kecilku. Sampai pada salah satu perempatan di jalan terpanjang Kota Bandung ini, tiba-tiba aku merasakan jalan motorku melambat. Dan kakiku yang aku tumpangkan diatas step kanan kiri motorku merasakan aliran air. Oh tuhan, air ternyata telah menggenangi jalanan ini. Aku perhatikan dengan seksama ke depan, jalanan dipenuhi mobil-mobil yang bergerak melambat. Dan lebih jauh disana, mobil-mobil sudah tidak bergerak, motor-motor dipapah yang punyanya. Klakson-klakson nyaring memenuhi gendang telinga. Keadaan ini menghentikan segala romantika.

Motorku sudah sulit melaju. Terjebak dalam jalanan sungai atau sungai jalanan. Airnya pekat dan agak bau. Beda dengan air yang mengaliri empang ayah yang jernih sehingga ikan-ikan akan tetap terlihat kemanapun dia pergi. Ban motorku sudah sulit bergerak karena tersangkuti sampah plastik, kain, lumpur dan segala sampah. Sampah botol minuman instan mengapung disana-sini. Kini, bunyi deras hujan bersahutan dengan caci maki pengguna jalan. Gelegar petir beradu kencang dengan klakson kendaraan.

Aku masih mengikuti arah iring-iringan kemacetan. Air sudah sampai pada lututku. Tentu saja aku sudah seperti yang lainnya, memapah motor. Beberapa kendaraan memutuskan berbalik arah, itulah yang menyebabkan kemacetan. Jalanan jadi kacau balau. Hatiku sedari tadi hangat oleh kisah masa kecilku, kini menjadi panas karena keadaan yang tak menentu.

Aku berada di perempatan. Terjebak dalam sungai jalanan atau jalanan sungai. Kini deras hujan sudah tak terdengar, kalah telak dengan umpatan orang-orang. Meski tak lagi menarik perhatian, hujan bertambah deras dan begitu pula arus di kakiku. Aku makin sulit menggerakan motorku. Aku putuskan untuk membelokan motorku, mencari tempat parkir. Sulit, aku tak mendapat ruang untuk membelok. Tuhan, sulit sekali ini keadaan.

Aku lihat ke sebelah selatan, air disana tampak lebih tinggi. Itu daerah memang lebih rendah dari tempatku berdiri. Kendaraan-kendaraan disana sudah tak ada yang bergerak, semuanya mematung. Dan tidak ada orang-orang disana. Kemanakah mereka? Lalu aku lihat lebih seksama, dalam deras hujan aku lihat orang-orang bergerak disisi-sisi jalan mencari daerah yang lebih tinggi. Sementara motor-motornya, mobil-mobilnya mereka tinggalkan.

Beberapa saat kemudian, rombongan orang semakin ramai. Bergerak kepayahan melawan arus yang semakin menggerus. Seratus meter di sebelah selatan sana air telah hampir mencapai selangkangan. Orang-orang itu tidak dengan tangan kosong, ibu-ibu menggendong anak-anaknya, ayah-ayah membopong tv, kulkas, kasur dan apa saja. Mereka berlomba-lomba menggapai ketinggian. Menyelamatkan nyawa mereka dan nyawa anak-anaknya. Rumah-rumah mereka mereka biarkan terendam. Di kejauhan sana, jalanan sudah seperti sungai betulan.

Aku masih saja berdiri. Aku sungguh benci keadaan ini. Aku jadi ingat bahwa di desaku sederas apapun hujan takkan membuat jalanan seperti sungai. Sederas apapun aliran air takkan pernah bersampah seperti disini. Dan sederas apapun hujan takkan membuat ayah dan aku menyelamatkan ibu dan adikku. Hujan di desaku bahkan merupakan sumber keriangan yang tiada duanya.

Aku masih saja berdiam diri. Di sebelah selatan sana, seorang anak kecil mengambang diatas ban ditarik oleh ayahnya. Disampingnya sang ibu menggendong sang adik yang meraung-raung kedinginan. Aku masih saja berdiri, mengingat-ingat di desaku, tak akan mungkin terjadi yang seperti itu.

Aku masih saja berdiam diri. Beromantika bersama hujan, berharap di depan mataku ini hanyalah ilusi.
Jatinangor, 15 November 2006

Leave a Comment

Filed under Fiksioner