Romantika Hujan

Versi bahasa Sunda cerpen ini pernah dimuat di Majalah Mangle dengan judul “Lalakon Hujan”

Langit tak tampak. Biru tertutupi kelabu. Namun, cahaya matahari sore berkelit memasuki celah-celah kecil yang ditinggalkan awan. Cahaya-cahaya itu seperti sinar laser, memanjang dari langit menembus awan, menusuk bumi. Dari kejauhan terdengar gemuruh geledek. Disini, rintik gerimis sesekali menyentuh kulit wajahku.

Rintik gerimis tak menyakitkanku. Justru memancing ingatan-ingatanku. Tentang rintik-rintik gerimis, juga hujan dan petirnya yang dulu jadi sahabatku. Maka, aku justru menantikan yang lebih dahsyat dari sekedar rintik gerimis ini. Hujan, datanglah. Sirami aku sebisa kamu. Maka, hujan pun turun, deras dan semakin deras. Aku memacu sepeda motorku santai, karena ingatan-ingatan ini muncul lebih deras daripada hujan.

Hujan-hujan ini dulu sangat aku tunggu. Aku menyukai hujan seperti kerbau menyukai kubangan lumpur, seperti Romeo menyukai Juliet. Bukan hujan saja, aku menyukai air sebetulnya. Maka, ingatan-ingatan tentang aku dan air menyatukanku dengan hujan yang semakin lama semakin deras ini. Maka, aku biarkan tubuhku kuyup, seperti belasan tahun yang lalu, aku kuyup sambil mengejar-ngejar bola.

***

 Ayahku melihatku memperhatikan teman-temanku bermain bola di pekarangan rumahku. Pekaranganku memang luas, setengah lapangan bola. Namun itu bukan punya keluargaku, kebetulan saja pekarangan rumahku menyatu dengan pekarangan SD. Bagi anak-anak kampung, bermain di pekarangan itu berarti bermain di pekaranganku, arti yang lain: bermain denganku. Maka, tak lengkap jika bermain disini tanpa aku. Termasuk juga ketika hujan.

Ayahku melarangku hujan-hujanan. Aku pernah sekali bermain bola sambil hujan-hujanan, sebelum ayahku datang dari kerjanya. Aku tahu aku akan dimarahi jika kepergok, dan benar saja, ayah pulang pukul empat, tepat waktu, dan itu adalah waktu paling asyik untuk bermain bola. Aku dihukum malam harinya, bukan hukuman berupa pukulan di pantat atau dipenjara dalam kamar mandi. Hukuman itu berupa belajar matematika. Bagiku itulah hukuman paling mengerikan yang pernah aku terima. Aku amat benci matematika, ayah tau itu. Dan setiap kali aku mendapat hukuman dari ayah, belajar matematika tidak akan kurang sampai jam 1 dini hari. Aku seringkali menangis ketika dapat hukuman itu, benar-benar menangis, tangisan atas siksaan yang luar biasa. Tangisan yang pasti terbawa sampai tidur. Menjadi bahan nyelindur.

Dan sore itu, hujan turun tidak terlalu deras. Padang rumput di pekarangan pasti tergenang air setengahnya. Dan itu saat istimewa untuk bermain bola, ketika melakukan sliding tackle tak akan menyakiti kulit kita. Justru jatuh terjerembab menjadi sensasi yang tiada duanya. Dan teman-temanku itu tengah menikmatinya. Aku? Hanya duduk diatas sepeda motor ayah yang diparkir di teras, memperhatikan mereka dengan seksama. Ikut tertawa jika teman-temanku menertawakam salah satu dari mereka yang terpeleset ketika menendang bola. Bersamaan dengan tawa, hatiku meringis. Aku ingin hujan-hujanan seperti mereka.

Ayah datang membawa pisang goreng buatan ibu. Adikku kemudian menyusul menyajikan teh manis hangat. Aku menyambut pisang goreng dan teh hangat. Memang hangat, enak. Namun aku tidak butuh hangat. Aku justru ingin merasa kedinginan, ingin merasakan kulit-kulit jariku keriput saking kedinginan, namun sebetulnya jiwaku hangat, oleh rasa riang main bola bersama teman-teman. Aku tidak butuh pisang goreng hangat, padahal hatiku beku, karena tak kutemukan rasa riang didalamnya.

Aku menyeruput teh manis hangat dengan malas-malasan.

Ayahku mungkin menatapiku dari belakang. Aku merasakan tatapannya menembus punggungku. Akupun sebetulnya memunculkan gestur-gestur kegerahan. Gerah atas keadaanku ini yang membosankan. Gestur-gestur cari perhatian. “Kamu pengen hujan-hujanan?” ayahku bertanya. Aku merasa bingung menjawab apa, maka aku diam saja. Aku biarkan ayah merasa tersiksa melihat anaknya tidak bahagia, ayah mana yang tidak ingin anaknya bahagia.

“Sana, pergi… tapi ganti dulu pake baju kotor”.

Tuhan! Aku bengong mendengarkannya. Namun, aku beringsut sebelum ayah berubah pikiran. Berlari menyambar kaos kotor dari ember cucian, berlari telanjang kaki menembus hujan, yang tetesnya kurasakan begitu hangat menyentuh kulitku. Teman-teman menyambutku jauh lebih hangat dari hujan.

Aku terjatuh tujuh kali, aku membuat gol tiga kali, aku tertawa berjuta-juta kali…

Malam harinya aku khawatir kena hukuman. Ternyata tidak. Aku dibiarkan belajar sendirian. Bahkan sejak itu aku tidak pernah dilarang hujan-hujanan.

Dua hari kemudian aku baru tahu alasan ayah melepaskanku pada hujan. Di dua hari kemudian itu ayah mengajaku keluar saat hujan. “Aku hujan-hujanan bersama ayah!” Seruku dalam hati. Aku dibekalinya ember, ayah sendiri membawa jala dan sairan. Aku diajaknya ke empang kami. Sebuah empang kecil yang ditanami ikan mas, gurame dan lele. Ayah, bergegas sampai setengah berlari, cepat-cepatan dengan gemuruh petir. Aku sebetulnya ingin lebih bergegas lagi. Adrenalin yang meluap-luap.

Sampai di empang, aku kaget melihat air empang yang membandang. Aku melihat air empang sudah menyatu dengan air dari sekelilingnya. Saluran air yang biasa mengalirkan arus ke empang kini dialiri balik oleh empang. Dan ikan-ikan seperti diberikan kebebasan pilihan berenang saat itu. Ikan-ikan menari-nari di kubangan disekeliling empang, bersembunyi dibalik rumput-rumput, berloncatan diantara akar-akar pohon, melarikan diri ke saluran air.

Tanpa dikomandoi aku menangkap ikan-ikan itu, memasukannya ke ember-ember yang aku tenteng. Aku cukup cekatan menangkap ikan sejak aku sering bolos sekolah agama sore untuk berenang dan mencari ikan di sungai desa. Mungkin ayah tahu itu, makanya aku diajaknya kemari. Ayah langsung membenahi tanggul empang yang bocor disana-sini. Menyumbat sebisa mungkin saluran-saluran air menuju empang. Aku sibuk setengah kegirangan, sibuk menangkapi ikan, dan girang karena banyak alasan.

Ayah berlari menyusuri saluran air. 30 meter dari empang, saluran setinggi setengah lutut ayah itu ia sumbat dengan jala. Memerangkap ikan-ikan yang euforia. Aku tetap pada inisiatifku, mengambili ikan sebisaku. Kemudian ayah juga melakukan pekerjaanku, menangkapi ikan menggunakan sairan. Ember-ember kami penuh sesak oleh ikan. Ayah menyuruhku mengambil ember tambahan. Sampai menjelang magrib kami masih memasang jala di sekeliling bibir empang.

Malam harinya, ibu menggoreng lele, ikan mas dan gurame untuk makan malam. Beres makan, ayah memberiku obat. “Biar gak demam”, jelas ayah. Aku tidur duluan karena obat yang diberikan ayah. Lelap. Memimpikan keriangan sore tadi. Keriangan yang terekam abadi dalam ingatanku.

Dan setiap hujan, ayah sudah tidak lagi khawatir tentang empangnya. Ayah bisa menepi di perjalanan pulang bila turun hujan, tanpa harus khawatir jika air empang membandang lagi. Aku mengambil alih tugasnya.

***

Lamunanku deras seperti hujan kali ini. Motorku ini sepertinya sudah menggigil Namun aku masih terhangati romantisme masa kecilku. Sampai pada salah satu perempatan di jalan terpanjang Kota Bandung ini, tiba-tiba aku merasakan jalan motorku melambat. Dan kakiku yang aku tumpangkan diatas step kanan kiri motorku merasakan aliran air. Oh tuhan, air ternyata telah menggenangi jalanan ini. Aku perhatikan dengan seksama ke depan, jalanan dipenuhi mobil-mobil yang bergerak melambat. Dan lebih jauh disana, mobil-mobil sudah tidak bergerak, motor-motor dipapah yang punyanya. Klakson-klakson nyaring memenuhi gendang telinga. Keadaan ini menghentikan segala romantika.

Motorku sudah sulit melaju. Terjebak dalam jalanan sungai atau sungai jalanan. Airnya pekat dan agak bau. Beda dengan air yang mengaliri empang ayah yang jernih sehingga ikan-ikan akan tetap terlihat kemanapun dia pergi. Ban motorku sudah sulit bergerak karena tersangkuti sampah plastik, kain, lumpur dan segala sampah. Sampah botol minuman instan mengapung disana-sini. Kini, bunyi deras hujan bersahutan dengan caci maki pengguna jalan. Gelegar petir beradu kencang dengan klakson kendaraan.

Aku masih mengikuti arah iring-iringan kemacetan. Air sudah sampai pada lututku. Tentu saja aku sudah seperti yang lainnya, memapah motor. Beberapa kendaraan memutuskan berbalik arah, itulah yang menyebabkan kemacetan. Jalanan jadi kacau balau. Hatiku sedari tadi hangat oleh kisah masa kecilku, kini menjadi panas karena keadaan yang tak menentu.

Aku berada di perempatan. Terjebak dalam sungai jalanan atau jalanan sungai. Kini deras hujan sudah tak terdengar, kalah telak dengan umpatan orang-orang. Meski tak lagi menarik perhatian, hujan bertambah deras dan begitu pula arus di kakiku. Aku makin sulit menggerakan motorku. Aku putuskan untuk membelokan motorku, mencari tempat parkir. Sulit, aku tak mendapat ruang untuk membelok. Tuhan, sulit sekali ini keadaan.

Aku lihat ke sebelah selatan, air disana tampak lebih tinggi. Itu daerah memang lebih rendah dari tempatku berdiri. Kendaraan-kendaraan disana sudah tak ada yang bergerak, semuanya mematung. Dan tidak ada orang-orang disana. Kemanakah mereka? Lalu aku lihat lebih seksama, dalam deras hujan aku lihat orang-orang bergerak disisi-sisi jalan mencari daerah yang lebih tinggi. Sementara motor-motornya, mobil-mobilnya mereka tinggalkan.

Beberapa saat kemudian, rombongan orang semakin ramai. Bergerak kepayahan melawan arus yang semakin menggerus. Seratus meter di sebelah selatan sana air telah hampir mencapai selangkangan. Orang-orang itu tidak dengan tangan kosong, ibu-ibu menggendong anak-anaknya, ayah-ayah membopong tv, kulkas, kasur dan apa saja. Mereka berlomba-lomba menggapai ketinggian. Menyelamatkan nyawa mereka dan nyawa anak-anaknya. Rumah-rumah mereka mereka biarkan terendam. Di kejauhan sana, jalanan sudah seperti sungai betulan.

Aku masih saja berdiri. Aku sungguh benci keadaan ini. Aku jadi ingat bahwa di desaku sederas apapun hujan takkan membuat jalanan seperti sungai. Sederas apapun aliran air takkan pernah bersampah seperti disini. Dan sederas apapun hujan takkan membuat ayah dan aku menyelamatkan ibu dan adikku. Hujan di desaku bahkan merupakan sumber keriangan yang tiada duanya.

Aku masih saja berdiam diri. Di sebelah selatan sana, seorang anak kecil mengambang diatas ban ditarik oleh ayahnya. Disampingnya sang ibu menggendong sang adik yang meraung-raung kedinginan. Aku masih saja berdiri, mengingat-ingat di desaku, tak akan mungkin terjadi yang seperti itu.

Aku masih saja berdiam diri. Beromantika bersama hujan, berharap di depan mataku ini hanyalah ilusi.
Jatinangor, 15 November 2006

Leave a Comment

Filed under Fiksioner

Tren Kesurupan di Jatinangor: Satir bagi Dunia Pendidikan

Dipublikasikan di www.citizenmagz.com dan www.jakartabeat.net

seorang anak kesurupan di arak-arakan Kuda Lumping di Jatinangor (13/11)

Selepas acara Motekar Games, 30 Oktober 2011 lalu, saya dan pengurus Sanggar Motekar Jatinangor  duduk-duduk di Bale Jati, ruang tempat ngerumpi di sanggar kami. Sanggar Motekar merupakan  sanggar seni tradisi Sunda di Jatinangor yang didirikan keluarga Pak Supriatna. Sejak 30 tahun lalu keluarga ini membuka ruang bagi warga sekitar untuk berlatih karawitan, ragam-ragam tarian, silat, dan tidak lupa mengupayakan beberapa seni yang nyaris punah agar lebih lama bertahan – kadang kami menyadari suatu ironi, sanggar sekecil ini takkan mampu mempertahankan sendirian suatu kesenian yang meregang nyawa.

Siang itu, dari sekian banyak tema obrolan, ada satu tema yang paling panjang diobrolkan. Tema ini ‘nyelekit’, bikin kami memikirkan urusan pondasi sanggar. Temanya seperti remeh temeh: anak-anak di Jatinangor sedang doyan main Kuda Lumping.

Peserta rumpi kala itu ada pasangan pendiri Sanggar Motekar, Pak Suprianta dan Ibu Arum, juga ada Mang Arsya sang koordinator seksi seni rupa dan Mang Didi sang guru tari. Mang Arsya dan Mang Didi berkisah tentang anak-anak kampungnya suka main Kuda Lumping di kebun-kebun kampung. Ibu Arum menceritakan anak-anak di SD tempatnya mengajar main Kuda Lumping di kelas kosong atau ketika kelas sudah bubar. Pak Supriatna yang sehari-hari mengelola Sanggar Motekar mendengar desas-desus dari anggota sanggar mengenai aktivitas serupa. Lho kan aktivitas itu tidak ada salahnya, Kuda Lumping kan salah satu seni tradisional yang harus dilestarikan?

Ternyata, bukan seni Kuda Lumpingnya yang dilestarikan dan dikembangkan anak-anak Jatinangor, namun kesurupannya yang mewabah. Jadi cerita Pak Supriatna, Mang Arsya dan Ibu Arum itu tentang kesurupan yang anak-anak tiru dari pertunjukkan Kuda Lumping.

Kita tahu bahwa pertunjukan Kuda Lumping melibatkan tarian menunggangi kuda-kudaan dan diramaikan dengan adegan yang spektakuler seperti makan beling. Pertunjukkan ini melibatkan aksi trance alias kesurupan. Konon, yang merasuki tubuh pemain Kuda Lumping adalah siluman kuda. Orang-orang percaya bahwa memakan beling adalah keinginan makhluk gaib yang merasuki tubuh si pemain Kuda Lumping.

Sepengamatan saya, alih-alih menari dan makan beling, di wilayah Sumedang helaran Kuda Lumping lebih ramai oleh anak-anak dan remaja yang mendekap dan Kuda Lumping dengan amat erat bak seseorang memeluk kekasih yang lama tak dijumpainya. Mata si anak melotot dengan mulut menganga, kadang mereka melakukan aksi spontan sepertimoshing atau berguling-guling di tanah. Pernah, ketika saya syuting film dokumenter Kuda Renggong tahun 2008 lalu, seorang pemain Kuda Lumping moshing ke sawah yang baru saja ditanami benih padi. Pemilik sawah mengomel tapi tak ada yang bisa menuntut seseorang yang kesurupan, kan?

Popularitas seni Kuda Lumping di kawasan Sumedang bisa dikatakan satu level di bawah Kuda Renggong. Kedua seni tradisional ini biasanya ditanggap sebagai pasangan iring-iringan pada pesta khitanan. Kuda Lumping biasanya berada di belakang Kuda Renggong pada formasi iring-iringan. Jika Kuda Renggong ditunggangi anak sunat, maka Kuda Lumping ditunggangi oleh grup mereka sendiri, dan pada perjalanan iring-iringan pemain Kuda Lumping menjadi siapa saja yang ikut kesurupan. Dalam urusan surup-surupan ini siapa saja memang bisa dirasuki. Dan akhir-akhir ini, peminatnya makin banyak. Bahkan di iring-iringan terlihat anak-anak yang masih amat belia ikut kesurupan. Di Sanggar Motekar sendiri tidak ada grup Kuda Lumping. Dan secara khusus kami melestarikan dan memiliki grup Kuda Renggong.

Di Sanggar Motekar, hampir semua pengurusnya adalah guru. Tren kesurupan Kuda Lumping ini awalnya tidak meresahkan komunitas sanggar, namun ketika kesurupan Kuda Lumping masuk sekolah, barulah timbul keresahan, Mereka mengkhawatirkan anak-anak didik mereka yang mengangkut minyak air mata duyung, kemenyan dan kuda-kudaan di tas mereka. Saat istirahat dan pulang sekolah anak-anak itu beraksi. Mereka bermain kesurupan dengan cara membakar kemenyan, mengoleskan minyak air mata duyung ke hidung mereka kemudian mereka menunggangi kuda-kudaan. Jika salah seorang dari mereka kesurupan penonton bersorak sorai. Seorang yang bisa kesurupan dipandang hebat oleh teman-temannya. Yang kesurupan kemudian bergerak-gerak spontan, mata melotot dan kadang membentur-benturkan diri ke lantai. Kata Ibu Arum, fenomena ini hampir ada di tiap sekolah dasar di Jatinangor. Saking resahnya Ibu Arum sampai menginterograsi anak-anak yang suka bermain Kuda Lumping itu.

“Apa yang dirasakan ketika kesurupan?” Tanya Ibu Arum.

“Tidak tahu bu, kan tidak ingat,” jawab salah seorang anak.

“Kalau kesurupan malamnya badan sakit-sakit?” Tanya Ibu Arum lagi.

“Iya, bu,” Jawab si Anak.

“Ya sudah, makanya jangan kesurupan!” tegas Ibu Arum.

Saya suka dengan cara Ibu Arum memberikan teguran bagi anak-anak, ia tidak mencoba menceramahi anak-anak dengan ceramah moral yang biasanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Satir

Saya ingat, ketika kecil saya suka main jelangkung, suka main sambat-sambatan (serupa dengan kesurupan), atau uji nyali ke tempat-tempat angker. Saya ingat waktu kecil ketika ikut latihan silat seringkali guru silat dan senior-senior di perguruan bermain sambat-sambatan. Mereka yang menyambat siluman monyet mempu memperagakan gerakan silat monyet, yang nyambat siluman harimau bersilat seperti harimau. Ada salah seorang yang menyambat namun tak mampu mengendalikan diri ia lalu berlari kencang sejauh mungkin sampai yang lain harus mengejar untuk menyadarkannya.

Jadi, rasanya pencarian pengalaman dengan dimensi supranatural bukanlah suatu hal yang aneh. Saya sendiri paham, memang terkesan berlebihan jika anak-anak SD membawa perlengkapan Kuda Lumping itu ke sekolah. Saya sendiri mencoba menerka-nerka, ada apakah gerangan? Saya tidak mau Seni Kuda Lumping itu sendiri yang dianggap biang keladi, karena suatu seni ketika berkembang bisa jadi adalah respon atas kondisi-kondisi yang ada.

Saya juga menerka-nerka, jangan-jangan yang membuat resah Ibu Arum dan orang-orang sanggar adalah bahwa aktivitas anak-anak saat ini di luar jangkauan “pendidikan”. Permainan ini memang cenderung berbahaya, bukan hanya karena dapat melukai fisik namun karena mereka bermain dengan dimensi supranatural yang tidak masuk dalam kerangka pendidikan. Sebagaimana pendidikan pada umumnya, pengawasan terhadap tubuh anak didik menjadi perhatian utama.

Saya kemudian mempertanyakan terkaan saya tersebut, mengapa anak-anak di Jatinangor saat ini mengikuti tren bermain dengan hal-hal supranatural? Apakah ini ada hubungannya dengan kejenuhan mereka pada hal-hal yang rasional dan natural?

Berhubung pagi tadi di Sanggar Motekar baru saja digelar lomba egrang dan kelom batok yang diikuti belasan anak-anak, saya menghubungkan tren Kuda Lumping ini dengan gejolak jiwa di masa kanak-kanak. Menurut saya, fenomena ini juga bukan semata-mata soal relasi manusia dengan hal-hal supranatural, namun juga dengan kondisi kultural. Saya curiga, jangan-jangan dalam kultur keseharian anak-anak saat ini tidak terdapat ruang penyaluran gejolak emosional? Jangan-jangan naturnya anak-anak didisiplinkan hanya untuk menjadi seorang yang rasional?

Diskusi di Bale Jati kemudian mengarah pada kritik dunia pendidikan itu sendiri. Kami percaya. pendidikan bukanlah semata-mata soal kemajuan kognisi: asal anak-anak pintar dan bisa lulus ujian sekolah. Namun juga perkembangan dimensi estetika dan pengolahan rasa. Dalam suatu komunitas seni pasti mengenal istilah yang menjadi ‘akidah’ dasar para penari maupu pesilat, yakni wiraga, wirahma, wirasa. Wiraga adalah gerak tubuh, wirahma adalah kesesuaian gerak tubuh dengan musik dan wirasa adalah penghayatan.

Dari ketiga hal tersebut, saya curiga ‘wirasa’ telah meluntur dalam pendidikan formal, atau bahkan dalam ruang bermain baik di dalam maupun di luar rumah. Dimensi penghayatan ini memang yang paling tidak rasional, namun dimensi ini saya rasa penting bagi manusia, baik anak-anak maupun dewasa. Dimensi ini memang irasional, tidak melibatkan sesuatu yang empirik melainkan soal emosional. Saya menganggap, ketertarikan anak-anak untuk bermain Kuda Lumping merupakan pelarian untuk meluapkan adrenalin emosional. Dan gejolak ini lumrah. Terlepas dari pilihan anak-anak pada Kuda Lumping yang dianggap berbahaya, menurut saya justru pilihan ini realistis karena Kuda Lumping tengah eksis sebagai tren kesenian yang mengakomodir ruang bagi pelepasan adrenalin mereka.

Lagipula, di banyak kebudayaan ekspresi seni berelasi dengan erat dengan keyakinan terhadap kekuatan supranatural. Seni dengan muatan supranatural memang memacu adrenalin, dan dengan demikian bersifat spektakuler, kata teman saya yang pebisnis perjalanan wisata:  bakal laku untuk dijual ke turis asing.

Pencarian terhadap pengalaman trance sendiri lumrah bagi tiap manusia. Berbagai cara akan dicari oleh tiap orang. Ada yang menggunakan supranatural, ada yang berdzikir, ada yang pakai narkoba sambil clubbing. Jadi, tidak ada yang aneh juga dengan pencarian pengalaman trance itu. Saya tanya ke orang-orang sanggar, apakah anak-anak ini sedang melakukan semacam pelarian dari dunianya yang tidak mengakomodir pengolahan rasa?

Semuanya  menjawab ya! Pak Supriatna kemudian memberikan banyak contoh betapa para guru makin tidak peduli dengan kegiatan-kegiatan pengolahan rasa. Latihan-latihan seni makin jarang, pendidikan dijalankan dengan metode yang kering kreatifitas, belajar-mengajar hanya di kelas untuk menghapal dan menghitung. Padahal, menurut Pak Supriatna, matematika pun bisa diajarkan dengan melibatkan kreatifitas emosional. Semua memang bergantung pada kreatifitas gurunya. Pak Supriatna sendiri, yang juga seorang pengarang sastra Sunda, dulu pensiun dini dari jabatan kepala sekolah. Jenuh dengan sistem, katanya. Ia memilih mengisi hari tua dengan menulis sastra sambil menjalankan sanggar sebagai alternatif  kegiatan anak-anak di Jatinangor.

Kami sepakat, bahwa upaya kreatif pengolahan rasa inilah yang penting. Dan anak-anak memang membutuhkan hal tersebut. Apa yang terjadi di sanggar selama ini secara tidak langsung adalah upaya mengolah wiraga, wirahma, wirasa. Kini, satu lagi kegiatan bertambah yakni memberikan ruang bagi anak-anak untuk berkompetisi dalam Motekar Games, karena salah satu sifat dasar anak-anak juga tingginya adrenalin untuk berkompetisi. Tren Kuda Lumping di sekolah-sekolah akhirnya hanya efek dari minimnya ruang berkompetisi dan peluapan dimensi emosional anak-anak, karena sekolah tidak mengakomodir hal selain berkompetisi untuk jadi juara kelas. Bagi saya, pemilihan anak-anak terhadap seni Kuda Lumping sendiri harus dilihat sebagai sebuah satir bagi budaya kita saat ini, terutama menyangkut keseharian anak-anak.

Di titik inilah saya menyadari, jangan-jangan Kuda Lumping lebih berhasil merayu anak-anak dalam konteks peluapan dimensi emosional ketimbang sekolah formal? Dan jangan-jangan Sanggar Motekar juga tidak bisa se-powerfull Kuda Lumping dalam pemberian ruang ekspresi emosi bagi anak-anak?

Kami menyadari,  sudah benar bahwa pondasi Sanggar Motekar memang harus “pengabdian kepada generasi anak-anak”. Bukan semata-mata pengabdian pada pelestarian seni tradisi. Relasi antara seni tradisi dan anak-anak ini salah satunya adalah soal pengolahan rasa atau emosi, karena seni tradisi mengajak kita mengolah itu, termasuk Kuda Lumping. Lahir sebuah otokritik: sudahkah kami benar-benar menempatkan sanggar kami sedemikian rupa?

Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah, sudahkan kita mengerti benar tentang dunia anak-anak? Seringkali setelah dewasa, kita bersikap otoriter terhadap anak-anak, lupa kalau kita pernah kanak-kanak.

2 Comments

Filed under Kultur

Cerita dari Teras Sanggar: Sindiran Dari, Oleh dan Untuk Penipu!

Kini Pak Surpriatna punya hobi baru, ia suka menyapu halaman depan Sanggar Motekar sambil menguping obrolan anak-anak SMA Pasundan Jatinangor yang sering nongkrong di gerbang masuk sanggar. Di dekat pintu masuk sanggar memang ada warung kecil yang diurus oleh Danny, putra bungsu Aki Ali, sang maestro Kuda Renggong yang mengurusi istal Motekar. Dan warung itu akhir-akhir ini menjadi tempat favorit anak-anak SMA Pasundan sebelum mereka masuk kelas siang. SMA swasta ini memang bertetangga dengan sanggar. Biasanya mereka datang naik motor jauh sebelum bel masuk kelas berbunyi.

Kisah yang hendak saya ceritakan ini adalah yang pertama kali membuat Bapak sadar bahwa meski kehadiran mereka berpotensi membuat sanggar terlihat “nakal”, namun mereka memberi pesan lain. Pak Supriatna yang merupakan penulis sastra, mencerna kehadiran mereka sebagai inspirasi.

Suatu saat Bapak sedang bersih-bersih halaman Sanggar, ia melihat seorang anak tengah menulis di secarik kertas. Seorang lainnya memperhatikan sambil membantu merangkaikan kata. Anak-anak yang lain cuek bebek menikmati rokok diatas motor: pose ini layak dicatat dalam sejarah sebagai pose penanda zaman kiwari. Zeitgeist.

Bapak menghampiri mereka sambil sebisa mungkin tidak menginterupsi mereka. Lalu Bapak bertanya dalam bahasa Sunda,

“Keur naon, euy?”[1], tanya Pak Supriatna.

“Ieu Pa, nuju ngadamel serat”[2], jawab si anak yang menulis surat.

“Surat naon, euy?”[3], selidik Bapak.

“Ieu Pa, surat ijin kanggo abdi, Pa”[4], jawab si Anak di samping si penulis surat.

“Eh, surat ijin mah kuduna ge dijieun ku orang tua meureun”[5], ujar Bapak mencoba tidak menggunakan nada teguran.

“Ah  dijiga-jiga weh, Pa”[6], tukas si penulis surat.

“Muhun, Pa, da sae seratana si ieu mah”[7], tegas si anak yang hendak bolos.

“Cing mana? Oh enya euy, alus geuning meni jiga”[8], tanya Bapak sambil memperhatikan tulisan surat palsu mereka.

Tiba-tiba salah seorang anak nongkrong di belakang mereka nyeletuk memberi komentar.

“Tah kieu, Pa, diajar ti ayeuna meh ke mun jadi anggota DPR lancar nipuna.”[9]

Pernyataan anak itu tidak dilontarkan dengan nada kencang, santai saja. Sambil lalu. Anak itu tidak sadar bahwa ucapannya mengagetkan Pak Supriatna. Ini saya rasakan karena setelah itu dialog antara Bapak dan anak-anak itu tidak lagi diceritakan pada saya. Berarti Bapak tidak menganggap dialog lanjutannya sepenting sebelumnya. Kemudian Bapak langsung mengajak saya membahas makna celetukan si anak itu.

“Dari wajahnya Bapak yakin anak itu cerdas. Dia bisa menghubungkan apa yang terjadi di pusat kekuasaan negara ini dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Dan yang paling penting dia jujur, bicaranya ringan dan cuek” analisa Bapak.

Buat saya dan Bapak, kejadian itu menampilkan contoh penting bagi pemahaman kami mengenai bagaimana isu-isu nasional hadir dalam keseharian anak muda. Bagaimana “DPR” bisa dengan mudah diartikan sebagai peluang bagi permainan curang?

Jika ini memang benar-benar cita-cita si anak, maka lihat bagaimana bahayanya masa depan bangsa Indonesia. Namun kami juga yakin anak itu sedang bercanda. Candaan khas orang Sunda adalah sisindiran, jadi ungkapan anak itu merupakan satir yang ingin ia sampaikan. Canda anak itu mengandung keseriusan tersendiri, mengingatkan kita pada citra-citra di media massa tentang DPR yang harus diakui bukan lagi suatu lembaga terhormat, tapi kumpulan penipu. Tapi jika ini sebuah satir, toh mereka saat itu tengah melakukan penipuan dengan entengnya di depan seorang kakek pemilik sebuah sanggar seni. Paradoks.

Bapak tidak memarahi mereka apalagi mengusir mereka. Keluarga sanggar tidak suka cara menegur yang represif, jika mungkin malah kita ingin mereka masuk lebih dalam ke sanggar dan ikut latihan silat atau karawitan. Tapi pelan-pelan. Dan tampaknya Bapak malah seperti punya laboratorium baru, jadi ia saat ini seperti tengah melakukan penelitian etnografi. Banyak hal seru yang ia ceritakan pada saya, yang seringkali datang ke sanggar untuk menemaninya merunut dan menganalisa hasil amatannya terhadap keseharian orang-orang di sanggar dan sekitarnya.

“Kadang Bapak sengaja pura-pura menyapu dekat mereka, sebetulnya Bapak ingin mendengar percakapan mereka”, kisah Bapak.


[1] Lagi apa, nih?

[2] Ini Pak sedang menulis surat

[3] Surat apa, nih?

[4] Ini Pak, surat ijin buat saya, Pak

[5] Eh, surat ijin harusnya dibuat oleh orang tua, kali

[6] Ah, dimirip-miripkan saja, Pak

[7] Iya, Pak, soalnya anak ini tulisannya bagus

[8] Coba mana? Oh iya, bagus seperti betulan

[9] Nah begini, Pak, belajar dari sekarang biar nanti kalau jadi anggota DPR lancar menipunya

Leave a Comment

Filed under Kultur